Apa saja yang harus dibawa untuk backpackeran ke luar negeri selama kurang dari seminggu??

Di note ini saya sekedar ingin share saja, dengan banyak nya teman saya yang menanyakan apa saja yang harus dibawa saat kita backpackeran ke luar negeri??, tapi kurang dari seminggu saja. tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya saja.

saya pada khususnya tidak terlalu suka membawa barang begitu banyak untuk backpackeran. untuk mempermudah saya akan membuat 4 bagian barang yang harus dibawa untuk bekal kalian backpackeran.

BAGIAN PERTAMA

PAKAIAN (belum termasuk yang akan anda gunakan) :

- 3 baju (bila anda mudah berkeringat better bawa lebih)

- 2 celana (panjang dan pendek)optional : saya sih biasa nya cuma bawa celana pendek saja

- 3 celana dalam (kalo bisa sih yang bisa side A side B biar lebih irit hehe..Tongue)

untuk wanita agar lebih irit atau mempermudah anda dalam berpergian gunakan l;ah pantiliner, selain mempermudah tentu saja ini akan menjaga bagian kewanitaan anda tetap bersih walaupun seharian berjalan.


Potongan Surga Kecil Bernama Sawarna

Implusif Trip

            Diawali dengan obrolan gue dengan tiga orang teman di sebuah kelas akhir pekan perkuliahan, karena jenuh dengan rutinitas perkuliahan yang emang gue sendiri pun gak tau selama kuliah ini gue belajar apa, maka tercetuslah ide spontanitas seorang teman bahwa sore nanti selepas perkuliahan kita akan langsung ber-gembel ria menuju Desa Sawarna Banten.

*langsung minjem laptop temen, searching info tentang Sawarna  diselingi cewekbugil.com dan bintangmawar.com *
Tujuan kita : Pantai Sawarna

            Perjalanan implusif alias tiba-tiba tanpa perencanaan dengan ketiga teman gue yang kacrut mencoba menguji nyali dan "kelelakian" kita yang memang diragukan menuju Pantai Sawarna di Daerah Banten, salah satu tempat eksotis di Pulau Jawa. Dengan hanya berbekal kompor kecil, tenda sobek, enam bungkus indomie yang udah rada kadaluarsa dan uang yang sebenernya cuma cukup buat nyewa mbak-mbak tukang pijit di warung remang-remang maka dengan tekad membara dan ketololan tingkat tinggi kita pun nekat berangkat. Cuss.

            Terminal Leuwi Panjang menjadi titik awal pengembaraan kita mencari kitab suci ke Daerah Banten, gue sebagai Sun Gokong berbulu rontok, Iqbal sebagai Wu Cing bergigi jarang, Wawa sebagai Guru Tom Sum Cong kehilangan orientasi seksual, dan Wuddy sebagai Ci Pat Kai yang lebih mirip anak babi kelewat puber. Setelah bertanya-tanya arah bus dan tujuannya kepada petugas terminal yang lebih mirip preman terminal. Maka kita pun empat pemuda tanggung dengan tampang sotoy menumpang bus ekonomi langgeng jaya berwarna hitam dan ber-strip merah menuju Sukabumi.

            Perjalanan selama lima jam bus bobrok yang nampak hampir roboh ini pun sukses membuat gue, Wawa dan wuddy bete karena kita hanya bisa tidur, ngobrolin daerah selangkangan cewe, tidur, bercanda, tidur, buka celana, tidur dan gigitin kursi penumpang terus tidur lagi. Beda hal-nya dengan teman gue yang satu ini. Iqbal, selama perjalanan dia hanya bisa tidur..tidur..tidur..dan HOEEEEKK !!! Muntah. Selama perjalanan terhitung tiga sampai empat kali Iqbal muntah, kita sebagai teman yang baik dan setia kawan hanya bisa tertawa, tanpa membantu sedikitpun Iqbal yang sedang berusaha menahan biar pecel lele sama kadal gorengnya gak keluar lagi dari perut dia. God bless u friend. *ngeleyos tidur lagi*

            Berlalu lah lima jam perjalanan yang nista, akhirnya empat pemuda tanggung gila ini sekarang berada di terminal bus Sukabumi pada jam satu subuh, sambil menunggu bus yang akan berangkat jam setengah dua subuh kita pun makan terlebih dahulu, kebetulan Iqbal membawa bekal satu nasi bungkus yang dibawa dari rumahnya berupa nasi yang bak porsi tukang kuli bangunan ketimpa beton ditambah dengan dua potong ayam  tiren  kecil dan secuil sambel terasi. Ah, nikmat sekali makan rame-rame bareng teman seperjuangan walaupun hanya satu nasi bungkus dibagi berempat. Bukan banyak atau enaknya makanan, tetapi kebersamaannya itu yang bikin makan subuh kita ini berasa nikmat. #TapiTetepMasihLapar

            Tepat pukul setengah dua subuh kita pun melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ratu yang kita tempuh hanya dalam waktu dua jam saja. Perjalanan dini hari yang di dominasi rasa kantuk dan semiring angin subuh membuat gue yang dilanjutkan oleh Wawa, Iqbal dan Wuddy spontan menyanyikan lagu Bebas Merdeka dari Steven and Coconut Trezz. Entahlah peasaan teman-teman gue yang lain, tapi gue merasa bebas merdeka banget sekarang, menikmati perjalanan konyol ini bareng tiga temen kacrut gue.

Banyak yang bertanya
aku ini mau jadi apa?
nggak kuliah juga nggak kerja
tapi kujawab inilah aku apa adanya

tapi jangan kira
aku gak berbuat apa-apa
aku berkarya dengan yang ku bisa
dan yang penting aku bahagia

yang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
3, 7, 8 ....

kujalani apa adanya
aku bahagia
bebas lepas tanpa beban
aku merdeka

huoo.. yo.. yo.. yo..
na..na..na..na...

yang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
3, 7, 8 ....

yooo ... bebas merdeka..

#Now Playing Steven and Coconut Trezz : Bebas merdeka


            Sesampainya di terminal Pelabuhan Ratu kita kebingungan kaya orang bego nyari transportasi ke Sawarna, setelah bertanya-tanya ke penghuni terminal maka kita pun mendapatkan info bahwa transportasi ke Sawarna hanya ada satu hari sekali, yaitu menggunakan mobil elf pada pukul sembilan pagi. Well, akhirnya kita pun beristirahat sambil tiduran di lantai depan warung. Mirip empat orang anak homeless yang diusir kampung-nya karena ketauan ngegilir kucing pak RT.

Pantai Perawan Bernama Sawarna

            Suara bising kehidupan terminal di pagi hari membangunkan kita berempat dari tidur cantik bak putri tidur semalam, sambil menunggu pukul sembilan kita pun membeli nasi bungkus seharga 2.000 Rupiah sekedar untuk sarapan dan nimpuk cacing di lambung kita yang rame-rame nyanyi keroncong tanda demo minta makan. Mobil elf yang ditunggu pun datang, kendaraan darat yang nampak tidak mempedulikan hak asasi manusia, karena penumpang dilakukan nampak seperti barang ditumpuk sana sini. Penyiksaan pun terlewati, sampai di desa Sawarna dalam waktu dua jam.

            Sesampainya di Desa Sawarna, dimana ini adalah satu-satunya pintu masuk menuju Pantai Sawarna, kita harus berjalan kaki melewati jembatan gantung goyang karawang yang dibawahnya adalah sungai berarus deras. nah loh!? Desa sawarna sangat menyenangkan, selain ini perkampungan yang jarang sekali gue liat di Bandung dan kota besar lainnya, penduduknya pun sangat ramah dan tak jarang mereka melempar senyum kepada para pendatang yang sukses membuat gue beranggapan menjadi artis sinetron striping di SCTV yang sedang mengunjungi perkampungan terpencil, dan anehnya gue pun merasa malu dan ge-er disenyumin nenek-nenek dan ibu-ibu berdaster. Disini gue mulai mempertanyakan kembali orientasi seks gue. *ngubur diri di tanah*
  
            Desa Sawarna adalah desa kecil yang asri, dengan dihiasi banyak pohon dan dikelilingi sawah hijau dan pantai maka tak heran banyak pengunjung baik turis lokal maupun turis mancanegara menyambangi tempat indah ini. Lumayan banyak guesthouse dan penginapan di desa yang kebanyakan adalah milik penduduk setempat, harga rata-rata guesthouse dan penginapan disini adalah 100.000 Rupiah sampai 150.000 Rupiah. Tidak jauh berjalan dari desa, hamparan pasir putih dan air laut biru menyambut kita empat pemuda tanggung berbadan lusuh di Desa Sawarna.

            Pantai yang benar-benar pure pantai ini tidak memiliki sarana dan prasarana seperti layaknya pantai pariwisata Pangandaran maupun Kuta Bali, hanya ada satu warung kecil yang menjual berbagai macam kudapan dan aqua dengan harga melambung tinggi, tanpa ibu-ibu penjual cendera mata, tanpa tukang pijit dan tukang tattoo bau ketek dan tanpa tempat penyewaan papan surfing atau snorkel.

            Tak lama gue memandang dan menikmati Laut Sawarna, kita langsung mendirikan tenda di pinggir pantai setelah meminta izin kepada penjaga warung yang ternyata kita baru tahu namanya adalah BimBim, di Pantai Sawarna kita bebas mau mendirikan tenda, membakar api unggun, salto jumpalitan, ngemilin pasir, telanjang lari-lari sambil guling-guling di pasir dan sebagainya, karena mungkin ini pantai yang masih sepi. Oya, Pantai Sawarna juga memiliki ombak yang lumayan bagus untuk surfing. kenapa gue bisa tau? soalnya gak sedikit juga bule yang nenteng-nenteng papan surfing segede gaban melewati kita.

Ini tenda apa terpal segitiga?

            Setelah susah payah mendirikan tenda ditemani dua ekor anjing yang sedang kasmaran, gue memasak mie sekedar pake air sumur untuk mengganjal perut yang lapar ini (aqua yang gue bekel dah abis) dengan tetap ditemani dua ekor anjing yang sudah mulai menunjukan tanda-tanda mereka lagi di puncak nafsu iblis (sepertinya gue tidak perlu menceritakan apa yang gue lihat) sungguh pengalaman yang seru  melihat anjing sedang kimpoi  bisa berkemah di pinggir pantai yang sepi dengan tiga sahabat berkelakuan aneh.

            Puas mengganjal perut kita pun bermain-main di pantai sekedar berenang dan berkeliling pantai. Karena kita adalah empat remaja yang penuh semangat dan gak tau diri, kita berinisiatif untuk memanjat pohon kelapa dan mengambil buahnya yang banyak terhampar di Pantai Sawarna, tentu saja dengan tidak meminta izin dulu kepada pemiliknya, wong gak ada siapa-siapa disana yah jadi silahkan ambil sesuka hati saja *masang tampang bego*. Pertama yang memanjat pohon kelapa tinggi ini adalah Iqbal dan dia berhasil memetik dua biji kelapa setelah akhirnya menyerah karena capek menahan berat beban dan gigitan semut rangrang, lalu yang memanjat adalah Wuddy, bener-bener deh nih orang dasar emang karena haus atau kesurupan dia manjat cepet banget dan berhasil memetik enem biji kelapa dalam waktu yang sangat cepat! Entahlah mungkin kalo ada pemecahan rekor dunia memanjat pohon kelapa gue pasti akan jagokan Wuddy ditempat pertama dan monyet osteoporosis di tempat kedua. Awesome.


Magic Mushroom

            Sore itu kita menuntaskan dahaga dengan delapan buah kelapa hasil merampok, kita beristirahat sejenak dan tiba-tiba seorang penjaga warung bernama BimBim tadi yang gue kira adalah mantan drummer band Slank yang kena drop out gara-gara suka nelen stick drum-nya ini menghampiri kita, percakapan basa-basi cukup lama sampai akhirnya si Wawa menanyakan  "apakah ada MUSHROOM??" Yah, mushroom alias jamur racun tai kebo yang bisa bikin orang normal jadi stress dan orang stress jadi normal ini sungguh membangkitkan semangat hidup kita sebagai empat makhluk yang diusir Tuhan dari Surga, apalagi dengan jawaban "ada kok mas.." dari mulut manis BimBim *sambil senyum 10 senti* dengan sigap si BimBim memberikan kita mushroom yang sudah dijadikan omelette dengan harga 40.000 setelah nego yang harga awalnya adalah 50.000 Rupiah. Lets party.

            Yah, ternyata setelah melibas habis mushroom tanpa sisa, tidak ada reaksi yang terasa signifikan kepada tubuh kita nampak seperti biasa saja, tetapi #jengjongjeng *drum ditabuh, gamelan dipukul, kendang ditepak, kepala botak dijilat* badan kita mulai lemas lemas dan roboh ke pasir, pandangan kita mulai kabur, pendengaran gak jelas, idung meler, mata merah berair, kaki dikepala, kepala dikutang (saking gak jelasnya kondisi waktu itu) yah, akhirnya si tanaman spora jahat itu bereaksi terhadap otak kita, seperti orang tolol dan kurang waras kita pun tidur sambil memandang langit, gue sendiri melihat banyak Spongebob dan Patrick yang sedang gebukin Teletubies di langit, tapi entahlah halusinasi teman-teman gue seperti apa mungkin si Iqbal sedang berhalusinasi sebagai tukang gali kubur karena dengan bodohnya dia menggali pasir dalem banget ampe dosa gue bisa masuk, sementara si wuddy temen gue yang berasal dari Sukabumi ini tiba-tiba memiliki ilmu kebal entah karena mushroom atau karena kita berada di Daerah Banten, dengan bangganya dia kopek-kopek dan dia garuk luka dikakinya bekas korban jatuh dari motor dan itu tanpa rasa sakit sedikitpun. WOW!! Sementara temen gue satu lagi si Wawa entahlah mungkin karena lapar atau emang doyan, doi malah ngemilin pasir pantai "kruess..kruess.." bunyi pasir yang dia kunyah.

Korban Mushroom -___-"

            Tak lama kita pun saling pandang dan mulai saling berbincang, walaupun perbincangan tidak lucu tetapi kita tertawa terbahak-bahak mirip pasien rumah sakit jiwa tanpa sebab dan akibat yang jelas, karena di siang hari yang terik kita tertawa terbahak-bahak dan berguling-guling di pasir, sampai para wisatawan lain menganggap kita mungkin seperti empat pemuda  tampan  tolol yang hilang setengah otaknya kebawa ombak gede di Laut Sawarna. Walaupun kita baru beberapa jam berada di Sawarna, tetapi dengan mushroom kita berasa sudah sangat lama disini serasa sudah tujuh tahun saja, dan sore hari ini pun gue lewati dengan sound track dufan yang terus mengiung-ngiung di telinga gue, sambil senyum senyum sendiri dan tertawa lagi terus bengong terus ketawa lagi dan begitu seterusnya.

            Efek mushroom Sawarna hanya bertahan selama lima jam akan tetapi lima jam itu adalah lima jam yang sangat sangat indah diperjalanan konyol kita! Lalu kita sadar dan kembali kejalan yang benar. Sunset yang ditunggu-tunggu pun tiba, tapi karena hari itu lumayan mendung sunset yang kita lihat tidak terlalu bagus karena tertutup awan gelap, ketika malam menjelang para wisatawan pun pada pulang ke penginapan mereka masing-masing dan hanya tersisa kita berempat saja di pantai yang gelap tanpa penerangan sedikitpun. Untuk melewati malam yang panjang ini tidak banyak yang kita lakukan karena dipantai tidak ada penerangan sama sekali, kita pun membuat api unggun sambil memasak mie instan (lagi) kita pun bermain gitar sambil bernyanyi dan teriak-teriak keras, secara disini tidak ada orang yang peduli dan terusik oleh tingkah konyol kita. Malam tenang dan angin semilir dipinggir pantai serta cercahan cahaya dari api unggun membuat suasana begitu romantis, dan hampir membuat gue melakukan gerakan slow motion memegang tangan Wawa dan memandang matanya dalam lalu mengucapkan secara pelan tapi indah. ai lep yu. Dan untung itu gak terjadi, thanks god.

            Diiringi petikan gitar yang piawai dari Si Wawa kita pun menghabiskan malam sambil bernyanyi yang lebih terdengar seperti berteriak, lagu Saint Loco, berjudul santai saja, mengiringi kita malam itu untuk melewati cahaya bulan di Pantai sawarna.

Santai saja kawan
Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu
Kau pasti bisa
Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru

Tenang saja kawan
Hadapilah semua
Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Santai saja kawan
Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu
Kau pasti bisa
Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru
Tenang saja kawan
Hadapilah semu
#Now Playing Saint Loco : Santai Saja

            Lagu yang cocok banget buat kita, empat anak ilang dari berbagai Bandung, Cimahi, Sukabumi dan Bekasi yang berjanji bakal sahabatan ampe ntar kita nenek-nenek kakek-kakek. Dan pertanyaan gue, siapa yang bakal jadi nenek? Mungkin Wuddy bakal merubah bentuk kelaminnya tujuh tahun kedepan. Siapa yang tau rahasia Tuhan nanti. #abaikan

Wuddy, Wawa, Iqbal dan Gue

            Kita bangun pukul lima pagi dan langsung bergegas merapikan tenda dan lain-lain, karena kita harus mengejar angkutan umum sejenis elf yang berangkat dari Sawarna pada pukul setengah enam pagi. setelah berpamitan dengan BimBim kita pun berangkat pulang menuju Bandung dengan rute yang sama pada saat pergi. pukul empat sore pun kita sampai di Bandung, dengan badan lusuh dan dekil karena selama trip ini kita tidak mandi sama sekali, kita pun tertidur pingsan dengan kulit punggung yang merah dan kulit mengelupas. Perih !!!
           
VIVA MUSHROOM…!!!

BIAYA

ongkos PP bandung - sawarna Rp.110.000
nasi kuning di terminal RP. 2.000
mushroom/orang Rp. 10.000

TOTAL RP.122.000

dan uang saya masih sisa Rp.18.000
hahaha..gembel yang bisa jalan" kan??
Laughing out loud

Tips and trick menjadi solo backpacker by : ariy solo

Tulisan ini saya copy dari blog guru backpacker saya mas ariy, dia yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang backpacker. monggo di baca.

mas ariy
Saat memulai merencanakan backpacking, tidak pernah saya berniat melakukan perjalanan dengan teman. Saya selalu memikirkan dan membuat rencana perjalanan secara mandiri, untuk diri saya sendiri. Tetapi dalam kenyataannya, setiap mendekati jadwal perjalanan, ada saja yang pengen ikut. Meskipun begitu, mayoritas backpacking yang saya lakukan adalah solo travel.

Apakah takut traveling solo? Sebenarnya tidak. Tetapi lebih kepada ada perasaan mengganjal, tidak nyaman dan lain sebagainya. Khawatir akan terjadi sesuatu. Ini perasaan normal, dan pasti akan kita alami ketika kita akan memulai perjalanan kita secara sendirian. Tetapi bagi saya, ini hanya ketakutan-ketakutan yang ada di benak kita.

"Saya dengar, traveling di Jawa itu berbahaya. Banyak orang yang suka menipu, curang terhadap traveler," ujar teman saya dari Thailand yang ingin datang ke Jawa.

Itu pertanyaan yang terlontar sejak beberapa bulan lalu, dan kembali diungkapkannya beberapa hari lalu. Saya menangkap kekhawatiran dia. Saya hanya jawab, "Di manapun, selalu ada kriminal. Di negara mana pun selalu ada pembunuh, perampok, pencuri, tukang curang dan lain sebagainya."

Bagi saya, tidak ada jaminan mana yang lebih aman ketika kita di rumah, atau traveling di Yogya atau traveling di Bangkok. Pengalaman saya cari bus di Terminal Pulo Gadung, Jakarta, turun dari taksi langsung disamperin calo kasar yang membentak saya dan menempelkan pisau di pinggang saya. Dia merangkul saya dan memaksa saya masuk ke bus jelek yang katanya jurusan ke Solo (dan saya ternyata diturunkan di Pekalongan, hebatt!!). Sementara di Chiang Mai, saya aman tentram dan sentausa mencari bus menuju ke perbatasan Myanmar. Tidak ada yang tahu kapan kita sial? dan tidak ada jaminan negeri kita lebih aman.

Moral ceritanya adalah, kalau Anda berkutat dengan kekhawatiran soal keamanan dalam traveling, maka Anda tidak akan kemana-mana. Masuklah kekamar Anda, kunci pintu kamar, tidur manis di kasur empuk Anda, dan Anda akan aman.

Apa yang harus kita lakukan adalah fokus pada antisipasi persoalan dan solusi. Misalnya, karena kita traveling solo, maka kita harus mandiri, mempelajari medan, mempelajari sosiologi masyarakat sekitar, budaya sekitar, karakter orang sekitar. Bagi saya, ketakutan itu bisa bersumber pada dua hal:

- Ketakutan karena alasan internal

- Ketakutan karena alasan eksternal

Internal, tentu alasan-alasan yang datang dari diri kita. Misalnya, secara psikologis kita adalah orang pemalu,

Backpacker rules

salam backpacker :)

sebenernya tulisan ini saya buat menurut pengalaman selama saya backpackeran aja ditambah dari beberapa sumber yang saya baca. sifatnya sih bukan memerintahkan atau memberi tahu, tapi ini mungkin bisa jadi pedoman/rules untuk anda :)

kemana angin membawamu pergi
1. Dilarang keras mengeluh --apalagi cengeng, nanti jadi sayur

2. Jangan merusak apa pun, apalagi kalo tidak bisa ikut memperbaiki.

3. No sentimentalromantic journey (optional)

4. Di mana pun dirimu singgah, jangan meninggalkan sampah --sampah fisik maupun mental.

5. Hanya satu jalan yang tak bisa kita tempuh; hanya tepian langit!

Cheap Trip to Singapore and Malacca (Malaysia)

Hai para gembel hehe :p..saya mau menceritakan kembali tentang perjalanan saya backpackeran ke singapur dan malaysia nih, karena disni saya nyeritain gembel,jadi kalian yang baca note ini jangan ngarepin deh pengalaman saya main casino di singapore, jalan jalan ke universal studio, dugem di zouk singapore atau bahkan ngabisin uang berjuta-juta rupiah dalam perjalanan ini, inget WE ARE NOT TOURIST, WE ARE BACKPACKER seengganya itu yang dikatakan teman saya dari jerman waktu saya backpackeran ke thailand (manuel helsinger & michael rudolf) note ini negesin sekarang gembel aja bisa jalan-jalan ke luar negeri loh dengan,


 500 REBUan, 4 HARI 3 MALEM 2 NEGARA DAN BANYAK TEMPAT PARIWISATA YANG DIKUNJUNGI !!!

ini bukan becandaan koq mas mas dan mbak mbak..

 note ini nyeritain perjalanan backpacking saya dan 2 teman saya mas bih dan sarah yang dengan budget minim pun masih bisa jalan" ke singapore dan malaysia, bukan hanya satu negara yang kita kunjungi, tapi 2 negara sekaligus kita kunjungi dalam waktu 4 hari !!!


     yah di mulai dari rumah saya di bandung tentunya, kebetulan saya dapet tiket JKT - SINGAPORE dan itu saya dapet flight jam 9.00 a.m so otomatis karena temen saya si mas bih ini exciting banget mau jalan" keluar negeri hahahhaa..jadi kita cabut naik primajasa dr BSM ke bandara soetta pukul 3 subuh,,buseeet niat bgt yah..perjalanan bandung - jakarta kita tempuh dalam waktu 3 jam saja, kita sampai di jakarta pukul 6 pagi,sambil nunggu check in ticket kita pun memutuskan sarapan dlu dong di KFC bandara, dan saya ngga sadar ternyata itu sarapan paling mewah yang bakal saya nikmatin dalam waktu 4 hari ini hahaha..

     setelah selesai sarapan dan ngerokok” cantik di bandara, saya pun check in ticket 2 jam sebelum keberangkatan, setelah menunggu di boarding room, pesawat air asia dengan no. penerbangan QZ7788 pun datang tepat waktu yaitu pukul 9.00 a.m ,di pesawat ternyata banyak juga orang indonesia yang akan pergi ke singapura dengan berbagai tujuan tentunya entah itu liburan atau pun kerja, yang pasti yang bawa ransel segede bagong tuh cuma kita bertiga doang..*ya iya lah yah kan namanya juga backpacker.hehe..

(info : saya ke singapore bawa rokok 3 bungkus loh dan itu ga ada masalah)

HARI PERTAMA (17/02/11)

terminal 1 changi airport
     TOUCHDOWN SINGAPORE !!! Pesawat kita pun sampai di Singapore pada pukul 11.00 waktu Indonesia dan pukul 12.00 waktu Singapore..karena disana waktunya lebih cepet 1 jam dr Indonesia. Setelah mengurus tetek bengek seperti scan barang bawaan dan imigrasi akhirnya saya pun menginjakan kaki di singapur,
(info : buat para backpacker, dibandara itu jgn lupa selalu mengambil map,brosur,dan info” lain nya tentang destinasi yang kita kunjungi, itu GRATIS alias FREE koq.)

     Setelah mengurus semua dan mengambil peta Singapore saya dan kedua temen daya pun celingak celinguk di bandara change ini, sumpah ini bandara gede nya segede dosa orang kafir kali yah..gede banget ampe kita kesasar dan bingung buat keluar dari bandara ini ada terminal 1 lah 2 lah 3 lah..arghhhhhhh…#kampunganBangetYah hahahaha..

lost in changi airport -___-"
     Setelah tersesat selama kurang lebih 1,5 jam di bandara saya pun mendapatkan jalan ke luar, yaitu lewat stasiun MRT di changi airport, tanpa pikir panjang lagi saya pun membeli tiket MRT dengan tujuan Little India, dengan harga 3,1$ sebelumnya saya beli roti pandan satu bungkus buat ganjel perut sekalian nukerin receh seharga 1,4$.

(info : lebih baik kalian punya uang receh seperti pecahan uang coin atau lembaran uang 2$, sumpah ini berguna banget deh buat naik MRT)

(info : tiket MRT tuh system nya pake deposit jadi klo misalnya lu beli tiket dr change ke little india tuh 3,1$ nah ntar klo dah nyampe kita bisa balikin tiketnya dan lu dapet kembalian 1$)

(info : update lah status FB or twitter mu sebelum dan sesudah sampai Singapore, tujuannya ya apalagi kalo bukan buat SOMBONG”AN hahahahaha =)) )

santai ngudud depan hostel
     Setelah sampai little india kita pun buru” cari hotel di daerah itu sumpah lu ga akan ngerasa di Singapore deh klo pas nyampe little india, bau dupa yg suka di pake ibadah orang india, bau makanan india dengan khas bau rempah”nya yang menyengat plus bau badan orang india yang emang bau hahahahaha =)) no offense .ini kaya di india dah bukan kaya di Singapore hehe.. , sebenernya banyak hotel” murah di daerah itu seperti di Dunlop St. , Dickson Rd. , Veerasamy Rd. dll. Itu tergantung kejelian dan keuletan kalian aja buat nyari. Tapi pilihan saya jatuh di fernloft hostel di jalan besar, dengan uang 20$ kita dapet kasur di ruangan dorm, internet comp gratis, wifi gratis dan Breakfast gratis tentunya.hahahaha tapi overall semua enak dan bersih koq, kamar bersih dan berAC, share toilet bersih dan air panas tentunya, depan hotelnya pun bisa di pake ngerokok sambil nongkrong di pinggir jalan,hehe..

     Buat hari pertama ini saya mutusin Cuma jalan” aja di sekitar little inida toh banyak spot yang bagus buat didatengin koq seperti mustofa center, Sri Veeramakaliaman,  masjid abdul gafoor dan little inida arcade. Setelah puas jalan-jalan di sekitaran little india saya pun makan di daerah mustofa center. Yang harganya berkisar dari 2$ sampai 10$an, tapi saya makan nasi ayam aja yang harganya 4 $ dan air mineral yang beli di 7eleven dgn harga 1$. Setelah selesai makan malam saya pun pulang ke hotel untuk beristirahat dan surfing di internet dlu tentunya.biasa buat update status di dunia maya klo gw ada di Singapore sekarang hahaha..#sombongDikit

(info : kalo saya punya prinsip sih sebagai backpacker, JANGAN PERNAH NAIK TAKSI apalagi klo lu Cuma sendiri. MAHAL !!! lebih baik jalan kaki aja toh banyak yang bisa di liat dan ga ngebosenin juga koq)



HARI KEDUA (18/02/11)

     Saya bangun jam 10an nih pagi ini karena pada malam sebelumnya saya tidur jam 12 malem setelah ngobrol” terlebih dahulu sama orang bali yang sudah stay lama disana nama nya bang syarief.hehe…saya dapet banyak info tentang Singapore dari dia.
Setelah ngumpulin nyawa dlu di kasur saya pun cepet” mandi dan prepare buat lanjut ke melacca, pukul 11 pagi setelah sarapan di hotel saya pun langsung check out dan lanjut perjalanan.

(info : sarapan lah yang banyak klo bisa bawa Tupperware buat bekel roti buat dimakan di perjalan.hahahaha kan namanya juga gembel bebas dan ga tau malu tentunya haha..oh dan jgn lupa buat reffil air botol minuman di hotel semua FREE )

 mas bih seneng di MRT ketemu cewe


 bohay
     Setelah check out saya jalan ke statsiun MRT terdekat yaitu stasiun Farrer Park kira” 10 menit jalan kaki dari hostel kita nginep saya pun lanjut kea rah stasiun kranji dengan harga tiket 3,2$ dan seperti biasanya ini tiket deposit,setelah sampai tujuan bakal dikembaliin 1$ sama mesin nya.Setelah sampai kranji saya langsung menuju terminal bus yang ada di bawah stasiun kranji. Disini naik lah bus SBS transit atau causeway bus yang langsung ke arah terminal Larkin di Johor Bahru Malaysia dengan harga tiket sebesar 1,4$. Di perjalanan dr Singapore ke Johor Bahru ini kalian bakal sangat sangat repot dengan imigrasi yang mengharuskan kalian turun naik bus buat di cek di imigrasi.

(info : masuk Malaysia dari Singapore pun saya masih memberanikan diri buat bawa rokok dan ternyata disni di scan cek nya ga terlalu ketat koq,yang bakal di cek tuh bag gede kalian aja,yang kecil nya ga bakalan di cek jadi kalian taro aja rokok,bom,pisau,pistol ataupun majalah bokep kalian di tas kecil ini. Hahahahaha J) )

     Setelah selesai dengan imigrasi saya lanjut naik bus ke arah stasiun larkin, disini saya sempetin makan siang dlu di terminal larkin dengan uang 4RM kalian dah dapet nasi lemak ayam. Setelah makan siang saya pun lanjut naik bus dari larkin menuju Melaka, dsni banyak bngt perusahaan bus yang menawarkan jasa nya, tapi pilihan saya jatuh ke perusahaan bis MAYANG SARI.. entah namanya kaya artis Indonesia atau karena bus ini emang nyaman, tetep saya pilih MAYANG SARI.hahahahaha… =)) dengan harga tiket 19RM kalian dah bisa naik bus ke Melaka dengan nyaman.bus dsni ga kaya bus damri di bandung yang mau duduk aja susah.hahaha..ini bus nyaman banget, full AC dan kebetulan pas itu saya cuma bertiga di dalem bus itu.hahaha..serasa kaya bus pribadi nih.

The Excoticm of South Thailand (Phuket & Phi Phi Island) Rp 1,3 juta selama 8 Hari

My  First Backpacking Experience

Enjoy your world, fellas

          Pernah gak lo pada ngerasain bosen, bete, mager (males gerak), terkekang, tertindas, terinjak, terlena, terlalu dan ter.. ter.. lainnya karena saat lo dapet liburan semester yang panjang, tapi gak lo pake buat ngapa-ngapain atau gak lo pake buat kemana-mana banget. Cuma diem di rumah, maen komputer, maen handphone, maen facebook sama twitter, tidur, makan, nonton DVD  bokep , maen PS, ngocok (kartu), tidur lagi dan makan lagi, dan begitu seterusnya. Nah, itulah yang awalnya memotivasi gue untuk akhirnya iseng-iseng searching tiket murah ke luar negeri.

            Singkat cerita, akhirnya gue mendapatkan tiket promo Air Asia yang “lumayan” murah untuk pulang-pergi dari Jakarta menuju Phuket Thailand dan kembali lagi ke Jakarta. Otomatis inilah pengalaman pertama gue traveling sendiri ke luar negeri, walaupun, ini bukan pertama kalinya gue ke luar negeri. Soalnya dulu pernah sempet ikutan job training ke Malaysia selama enam bulan dan kebetulan gue jadi best trainee. *mamerin sertifikat best trainee*  #Abaikan.

            Anyway, Gue ke Phuket Thailand tentunya bukan sebagai turis yang bawa koper seabreg, baju selusin, nenteng kemeja rapih, kacamata lebih dari satu, terus bawa duit Dolar segepok. Tapi sebagai backpacker !! Backpacker yang mau gak mau harus bopong tas segede gaban, yang harus mau naik kendaraan umum super bobrok, dan yang harus makan murah apa adanya yang penting kenyang. Nampak seperti gembel? Iya memang, tapi gembel dengan tingkat kecerdasan sangat tinggi dalam hal me-menej perekonomian karena harus super duper irit buat ngeluarin duit, even itu cuma 100 Rupiah doang. Itulah hebatnya backpacker. Proud to be a backpacker !!

Sedikit kata pembuka untuk kalian para petualang dengan budget minim.
''jangan pernah takut untuk meng-explore dunia luar, karena tidak akan pernah ada yang sia-sia, celebrated our life because life an adventure''
          
Sawasdee Thailand

          Cerita ngegembel ini tentunya gue awali dari rumah gue di Bandung, dengan berbekal uang seadanya dan restu dari kedua orang tua gue, gue pun memulai perjalanan dengan bis menuju Bandara Cengkareng, berangkat dari Bandung pada pukul sepuluh pagi dan sampai ke bandara pada pukul satu siang, gue bingung karena ini pertama kalinya gue ke luar negeri sendiri. Pertama gue check-in di counter Air Asia dengan membayar pajak bandara sebesar 150.000 Rupiah, mahal. setelah check-in dan lain-lain, gue pun menghadapi gerbang imigrasi dan scaner barang bawaan.

            Beres dengan tetek bengek pengecekan, gue pun menunggu pesawat di boarding room, gak lama pesawat pun datang tepat waktu pada pukul empat lebih empat puluh menit dan sampai di Phuket pada pukul delapan lebih lima menit, lebih cepat lima belas menit dari jadwal. Di pesawat gue bertemu dengan Febry, Yunus, Saras dan Eji, empat orang anak Universitas Indonesia yang akan berlibur sama seperti hal nya gue. Dan pada akhirnya setelah perjalanan ini gue berteman baik dengan mereka. *kecup basah buat lo berempat*

galau nunggu pesawat
            Karena menurut info yang gue baca, transportasi bis yang menuju ke Phuket Town dari bandara paling telat adalah pukul sembilan malam, karena gak mau ketinggalan bis gue gak terlalu merhatiin bandara ini seperti apa, setelah melalui gerbang imigrasi gue pun langsung menuju pintu keluar tanpa melakukan scan check terlebih dahulu dan dipersilahkan melenggang dengan mudah melewati pengecekan. Entahlah, mungkin karena petugasnya lihat gue cuma bawa tas ransel jadi gak terlalu di bikin ribet, ataupun mungkin karena gue ganteng apa adanya jadi dia segan buat ngecek gue. Hehe. Dan disini juga lah gue berpisah dengan empat anak nyasar dari Universitas Indonesia.

(info : bus terakhir dari bandara menuju Phuket Town adalah pukul sembilan malam)

            Pertama kali menghirup udara Phuket pada malam hari, gue pun langsung berlari menuju stasiun bis yang berada di samping pintu keluar bandara yang akan mengantarkan gue langsung menuju Phuket Town, dengan ongkos 85 Baht gue langsung menuju Phuket Town, ternyata bukan cuma di Indonesia aja yang ada kenek nya, ternyata di Thailand, bis bis disini pun menggunakan jasa kenek untuk meminta ongkos kendaraan dari penumpangnya, kebetulan kenek bis gue saat itu gak terlalu bisa bahasa Inggris, alhasil dengan bahasa tarzan sambil nunjukin sebuah alamat hostel yang bakal gue kunjungi dia pun akhirnya ngerti dan tau dimana gue bakal diturunin.

            Turun dari bis tepat di depan hostel yang gue maksud, gue langsung check in di Hostel Lub Sbuy yang udah gue incer dulu sebelumnya dari internet, kamar dorm yang gue sewa sebesar 300 Baht/ malam dan deposit 100 Baht lumayan murah untuk hostel seperti ini, dengan bentuk bangunan yang tidak terlalu besar, hostel ini lebih ke gaya minimalis spektakuler spekulasi organisasi *buka kamus bahasa Indonesia*, kebetulan Hostel Lub Sbuy ini adalah hostel yang baru dibangun, hostel bertingkat empat dengan cukup banyak kamar yang disediakan, juga share bahtroom berkeramik kinclong ditambah gratis shampo dan sabun cair, sangat sepadan dengan apa yang gue bayar, ditambah juga fasilitas lain seperti free wifi, internet komputer, lobi yang nyaman dan staff yang helpful banget.

Lub Sbuy's Room
            Gue booking kamar selama dua hari disini, dan mendapatkan kamar dilantai paling atas, ketika pertama kali membuka pintu geser dan masuk ke kamar, ternyata ada dua orang bule yang telah dua hari menginap di kamar ini sedang minum rokok sambil ngenyotin beer. Loh? Awalnya sih gue agak canggung satu kamar dengan mereka yang jelas-jelas sangat asing bagi gue, takutnya sih gue diiket gitu di kasur terus ditelanjangin terus dipaksa buat ngejilatin bulu ketek mereka, itu kan serem banget. Anyway, ternyata mereka sangat welcome dan bersahabat, dan gak maksa gue buat ngejilatin bulu ketek mereka. Mungkin karena kita sama'-sama backpacker. Jadi kita banyak ngobrol tentang pengalaman ber-backpacker sambil saling mengenal satu sama lain. Obrolan gue dengan mereka ditemani juga oleh lagu-lagu rock yang menghentak keras dari handphone Sony Ericsson milik salah satu dari mereka.

Another day is going by
I'm thinking about you all the time
But you're out there
And I'm here waiting

And I wrote this letter in my head
Cuz so many things were left unsaid
But now you're gone
And I can't think straight

This could be the one last chance
To make you understand

I'd do anything
Just to hold you in my arms
To try to make you laugh
Cuz somehow I can't put you in the past

I'd do anything
Just to fall asleep with you
Will you remember me?
Cuz I know
I won't forget you
#NowPlaying Simple Plan - I’d Do Anything

            Manu Heusinger dan Michael Rudloff nama mereka, dua orang pelajar yang gak jauh beda umurnya dari gue ini berasal dari Jerman, yang ternyata sedang libur panjang juga sama seperti gue, Manu ini adalah seorang remaja yang menurut gue mirip Eminem, tetapi dengan banyak bulu pirang yang menggeliwir di dadanya, sedangakan Mike lebih mirip komedian asal Amerika, yang kalo gue gak salah sih namanya adalah Ucok Baba.


            Belom nyampe sejam gue nyampe di hostel, mereka langsung ngajak gue jalan ke club atau bar daerah Phuket. Entahlah ini ajakan persahabatan atau ajakan setan, karena, dengan dasar apa mereka mengajak gue ke tempat begituan? Apa mereka gak melihat tampang innocent nan lugu yang ada di muka gue? Apa mereka gak melihat aura positif yang terpancar dari pantat gue? Anyway, buat kali ini gue pengen ngikutin setan aja, empat jam perjalanan pesawat, lari-lari di Bandara Phuket, naek bis dengan kenek yang harus pake bahasa tarzan dulu baru ngerti apa maksud gue, ditambah semua kecapean dan kelelahan yang gue alami selama perjalanan ini gak gue hiraukan. Gue pengen liat  banci dan  wanita seksi Thailand !! Haha. So exciting.

Pink Ledeeeeh Beybeeehh..
            Basic nya dunia malam Phuket sangat membosankan, tidak ada tempat dugem untuk mencurahkan kemampuan triping gue (yaelah, tripiiiing, jaman kapan tuh dis?) Hanya ada restoran, cafe dan bar-bar kecil, dan itu pun hanya buka sampai pukul satu malam saja, banyak turis yang bilang Phuket Town sangat membosankan, tetapi pada akhirnya Gue, Manu dan Mike menemukan sebuah bangunan mencurigakan yang kita bertiga mensinyalir itu adalah sebuah club remang-remang tempat dimana mata gue bisa ber-rekreasi dan celana gue bisa jadi mendadak sempit. Nama bangunan ini adalah Pink Lady, bangunan persegi panjang yang mirip rumah makan padang Doa Bundo di kota gue tapi yang membedakannya adalah poster besar beberapa wanita berbaju minim yang sedang berpose seksi terpampang di depannya. Semakin membuat kita bertiga sebagai pemuda penuh gejolak jiwa langsung masuk ke dalam bangunan bernama Pink Lady tersebut.

            Pertama kali masuk kesana dengan pintunya yang cukup besar dan kondisi ruangan yang dengan pencahayaan apa adanya, membuat gue berasa kaya di tempat karoukean mesum di Bandung. Dengan lampu kelap-kelip kecil yang apa adanya juga dan jejeran sofa empuk dengan para wanita seksi sebagai waitress-nya ditambah satu panggung yang cukup lebar tapi tidak terlalu tinggi. Gak lupa juga ada lady boy Thailand yang baru pertama kali gue liat langsung dengan mata kaki gue sendiri. Well, Kita pun duduk dan memesan tiga botol beer Shang-hai,harga beer di dalam club memang lebih mahal dibandingkan dengan beer yang ada di mini market.

            Beberapa puluh menit berlalu, kita sempat jenuh juga cuma diem aja, karena ternyata hiburan yang disediakan disana hanyalah perempuan-perempuan Thailand yang saling bergantian menyanyi di atas panggung, mana gue gak ngerti juga dia nyanyi apa, “tong pang tong seng cung lang heng naaang” begitulah nyanyian yang gue dengar. Gila !! Sumpah bete, jijik, kentang, gak enak banget diem disini.

            Eh, tapi setelah kesabaran gue untuk menahan ke-bete-an itu, akhirnya terbayar juga. #JengJongJeng *lo bayangin backsound saat Superman nongol*. Semua wanita yang tadinya bernyanyi bahasa alien secara bergantian, akhirnya kumpul semua dalam satu panggung dan mulai menari-nari nakal, menggelinjang, memamerkan kemolekan mereka, ada yang goyang seadanya, ada yang goyang mirip Anisa Bahar, ampe ada yang goyang sambil buka beha dan mamerin daerah selangkangan mereka. Mungkin ada sekitar 30 wanita di atas panggung itu, sungguh sangat sangat membangkitkan semangat Gue, Manu dan Mike yang dari tadi letih, lemah dan lesu. Dan akhirnya kita bertiga cuma bisa melototin mereka goyang-goyang sambil sedikit ngeces tentunya. Sluuurrrpp.

            Ternyata setelah gue tanya sama waitress-nya, kenapa semua cewe-cewe itu ngumpul di atas panggung terus joget-joget birahi gitu, ternyata itu adalah cara mereka untuk menjual diri mereka, yah, hampir sama kaya kalo lo mau beli barang, nah si barang itu dipajangin dulu. Harga buat “nyobain” mereka bervariasi, mulai dari 5.000 Baht sampai 20.000 Baht. Haha. Harga yang mahal tentunya bagi gue sebagai seorang backpacker gembel, mending gue pergi ke kamar mandi, buka celana, ambil sabun, terus........ Ya mandi, emang dipikiran lo gue mau ngapain? Hahaha.

            Puas memanjakan mata dan ngebangunin dikit si “adek”, selesai sudah urusan gue dengan dunia fana itu, Gue, Manu, dan Mike pun bergegas pulang ke hostel untuk istirahat. Man is what a Man do.

I LOVE BEACH

            Saat gue terbangun dari tidur sambil mimpi mesum siang itu, kedua teman sekamar gue dari Jerman itu sudah tidak ada di tempat tidur mereka, barang mereka sudah lenyap, kasur mereka sudah tertata rapi, bau beer khas orang Jerman pun sudah hilang dari udara di kamar gue. Gue baru inget, mereka cerita semalam kalo mereka bakal langsung melanjutkan perjalanan saat pagi hari menuju Phi Phi Island. Ihh, nyesel banget padahal gue belum sempat berfoto, cipika cipiki, pegang-pegangan tangan atau saling bertukar facebook dan kolor dengan mereka. #Hening.

Bis di Phuket 
            Gue pun akan menghabiskan hari ini dengan itinerary yang sudah gue buat sebelumnya, mengelilingi Phuket Town dan mengunjungi beberapa pantainya. Di Phuket Town-nya sendiri, tidak terlalu banyak tempat menarik yang bisa gue kunjungi, hanya Old Phuket Town (seperti kota tua di Jakarta) dan beberapa daerah lain yang tidak terlalu menggejolakkan minat gue, akhirnya dengan tekad membara, gue memutuskan untuk mengunjungi beberapa pantai yang dekat dengan Phuket Town, yaitu Kata and Karon Beach. Gue naik bis dari Ranong Road di Phuket Town menuju Kata Beach dengan ongkos sebesar 30 Baht. Gue pikir ini bukan bis, jadi transportasi yang gue naiki ini memang disebut bis sama warga sekitar dan para wisatawan, tapi bis yang dimaksud adalah sebuah truk bak yang dimodifikasi, dikasih penutup gitu atasnya biar yang naik gak kepanasan, terus tempat duduknya terdiri dari tiga baris kursi panjang, hampir mirip seperti angkot kalo di Indonesia, cuma yang ini bentuknya buka mobil kecil gitu, tapi sebuah truk gede yang bisa muatin kurang lebih 20 penumpang.

Kata Beach
            Cukup 20 menit perjalanan ke Kata Beach, selama perjalanan gue disuguhi banyak jalan menanjak dan tebing-tebing batu tinggi. Sesampainya di Kata Beach gue memutuskan untuk makan dan membeli air mineral, karena sedari bangun tadi mulut gue belom nyentuh air sama sekali. Anyway, Kata Beach menurut gue adalah pantai yang cukup bagus, dengan pasir pantainya yang putih dan airnya yang biru tenang. Pantas banyak sekali turis yang datang kesini bukan hanya sekedar untuk berenang, tetapi banyak juga turis yang datang hanya untuk berjemur, men-tattoo badannya, sampai ada turis yang dateng kesini cuma beli jus segar yang dijual di pantai. Sedangkan Karon Beach yang berada di sebelah Kata Beach lebih tenang dan tidak terlalu banyak turis. Yang gue salut disini tuh adalah kebersihan pantainya, gue menyaksikan sendiri ada turis bule yang masih bocah berjalan ke tempat sampah hanya untuk membuang bekas bungkus permen karet doang, padahal tempat dia diem di pantai itu cukup jauh dari tempat sampah. Salute !!!

            Berenang di pantai udah, berjemur ala bule biar kulitnya item padahal gue item udah, makan sama minum udah, cuci mata liat bule berbikini juga udah. Gue pun pulang kembali ke Phuket Town. Di hostel, gue pun bergegas untuk  mandi dan membersihkan diri, setelah itu bersitirahat sejenak lalu pergi jalan-jalan buat menikmati pasar malam di Phuket, pasar malam di Phuket Town tidak jauh dari hostel gue, cukup berjalan kira-kira 127 langkah di tambah salto ke belakang tujuh kali.

            Di pasar malam Phuket Town berjajar banyak tempat makan dan kios-kios yang menjual berbagai cendera mata tentang Phuket, mungkin ini sekilas mirip Gede Bage di Bandung, banyak deretan toko baju di sepanjang jalan, tapi gue gak begitu tertarik, selain modelnya yang biasa aja, gambar-gambar di kaosnya pun norak. Satu-satunya yang menarik buat gue hanya kuliner alias makanannya aja, untuk pertama kalinya gue mencicipi Tom Yum asli made in Thailand !!! Harganya emang cukup mahal menurut gue, 150 Baht untuk semangkuk besar Tom Yum Seafood hangat, tapi sangat sebanding dengan rasa dan rasa dan rasanya yang sangat sangat sangat enak. Dengan kuah asem pedes gurih, ditambah potongan-potongan cumi, ikan, udang dan berbagai sayuran di dalamnya, membuat lidah gue tiba-tiba kebal dengan panasnya kuah Tom Yum dan gak berhenti-berhenti nyeruput kuahnya. Laziiiiiiz.

            Kenyang menyantap makan malam, gue beristirahat dan tidur dengan damai, karena besok gue harus bangun pagi untuk check out dan bertemu dengan seorang teman yang akan mengajak gue berkeliling Phuket. Sound like awesome yeaaaah !!!

 (info : perhatikan selalu jadwal bus bila ingin berpergian menggunakan bus)

 (info : untuk mengelilingi Phuket Town akan sangat jauh lebih mudah menggunakan motor, harga sewa motor hanya 300 Baht/hari)

One Day Full with Thanyalak Nunok Nongsin

            Dari pagi gue udah manteng nongkrong di lobby buat nunggu temen gue jemput, lama gue menunggu di lobby hotel, teman gue pun datang dengan sepeda motornya, kita pun berkenalan, Nunok namanya, dia seorang cewe, sebaya dengan gue, kulit hitam manis khas Asia Tenggara, berambut panjang lurus terurai mirip bintang iklan shampo  kadal  dan berpostur badan lumayan tinggi, awalnya gue berkenalan dengan dia di situs jejaring sosial facebook. Iseng-iseng cari cewe Thailand buat nemenin gue pas traveling, eh, dengan beruntungnya gue nemuin ID facebook-nya si Nunok ini, dan bisa bertemu juga di Thailand. Setelah berkenalan gue pun dibonceng untuk mengelilingi Phuket. Lets Rocking Phuket.

            Tujuan pertama kita adalah tempat makan, secara Gue dan Nunok belum sarapan pagi hari itu. Lumayan cukup jauh dari pusat Phuket Town kita makan di depan sekolah Nunok, sekolah Nunok ini berada di pinggir jalan, di depan sekolahnya pun banyak berjejer penjual makanan, hampir sama kaya sekolah-sekolah di Indonesia menurut gue.

            Menu sarapan pagi ini adalah Som Tam dengan harga 50 Baht/porsi, kalian tau Som Tam itu apa? Itu adalah makanan khas Thailand yang sekilas hampir mirip asinan Bogor dengan berbagai macam sayuran dan buah-buahan yang diiris-iris tipis, tapi bedanya Som Tam ini ditumbuk, dan yang anehnya lagi, Som Tam ini dicampur dengan kepiting kecil mentah yang digeprek. Som Tam disajikan dengan mie udon kering dan ketan, ditambah lalab-lalaban berupa kacang panjang mentah, kol dan daun kemangi. Seperti masakan sunda yah? Rasanya sih menurut gue sangat aneh dan bikin mual pengen muntah. Nah, cara makan kepiting kecil yang digeprek itu harusnya disedot aja, tapi gue malah di kunyah dan di telan, setelah gue liat muka Nunok yang keheranan sambil ketawa-ketawa, gue baru nyadar akan kebegoan gue.

Som Tam
            Selesai dengan sarapan yang bikin perut gue mual, kita melanjutkan perjalanan ke banyak tempat seperti Love Park, Wat Chalong (kuil Buddha terbesar di Phuket) disini gue ikut ritual sembahyang dan mencoba ramalan peruntungan dengan menggunakan banyak stick bernomer yang disimpan didalam satu gelas besar, lalu gelas itu dikocok-kocokan secara asal, nah, nanti kalo ada stick yang keluar dari gelas, kita liat nomer di stick itu, lalu kita ambil kertas yang disimpan disebuah lemari sesuai dengan nomer yang kita dapat, dikertas itu terdapat tulisan Thailand yang berupa ramalannya. Beruntung gue dapet ramalan yang baik hari itu. Hehe.

            Dari Wat Chalong, Nunok megajak gue mengunjungi Big Buddha yang berada di bukit cukup tinggi, ternyata disana sudah lumayan banyak turis yang berkunjung, selain melihat Big Buddha yang emang bener-bener besar sedang bertapa, disana ada juga beberapa patung Buddha kecil dengan bermacam-macam gaya, ada yang lagi tidur selonjoran mirip ibu kos nunggu bayaran, berdiri sambil menempelkan kedua tangannya, ada yang lagi melebarkan tangannya, dan masih banyak lagi style dari si patung Buddha tersebut. Nah, disana juga gue ketemu sama turis yang berasal dari Belanda, gue ngobrol-ngobrol dikit sama dia, setelah gue tanya, apa dia pernah mengunjungi Indonesia, dengan semangat menggebu-gebu dia banyak bercerita tentang Indonesia, dia pernah mengunjungi Bali, Kalimantan, Tana Toraja, sampai Papua pun pernah dia kunjungi. Dengan muka berseri-seri dia bilang kalo Indonesia sangat keren dan unik. Bangga kan jadi seorang Indonesia?

Gue dan Big Buddha

            Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, dan Nunok dengan semangat  mengajak gue melihat sunset di Phromthep Cape, tempat yang sangat indah bila lo dateng kesini berdua bareng pacar apalagi selingkuhan. Di Phromthep Cape kita bisa liat laut lepas Thailand, karena sunset viewpoint ini berada tepat banget di ujung selatan Phuket. Yang bikin gue nyesel, gak banyak foto yang bisa gue ambil, soalnya baterai kamera digital gue abis. Terlalu !!

            Dengan terbenamnya matahari di Phromthep Cape mengharuskan gue meninggalkan tempat itu, Nunok meminta gue untung mengendarai motornya kali ini, dan mengantarkan dia ke Blue Lagoon untuk casting sebuah film. Blue Lagoon adalah sebuah komplek perumahan di pinggir pantai, dan pastilah orang-orang kaya yang bisa tinggal disini. Dengan bangunan-bangunan rumahnya yang super besar dan mewah, juga terdapat banyak yacht atau kapal-kapal pesiar besar yang terparkir. Mirip Ancol gitu deh.

            Setelah casting Nunok selesai, Nunok tanpa lelah atau capek mengantarkan gue ke kawasan Patong dan mencari hostel murah disana. Sesuai dengan itinerary, gue bakalan nginep dua hari di Patong. Puter-puter mencari hostel yang murah, akhirnya gue menemukan satu hostel bernama Cheap Charlie, dari namanya aja udah kedengeran murahkan? Cheap Charlie berada di daerah ujung dari Patong, cukup jauh dari Jungcyloon Mall dan Pantai Patong, tapi sangat murah, hanya dengan 200 Baht/malam, Cheap charlie ini hostel yang sangat bergaya backpacker banget, selain dorm room super dempet-dempetan antara kasur dengan kasur, interior yang memajangkan banyak benda-benda unik seperti topeng dan patung kecil dari beberapa negara, disini juga tersedia bar yang nyaman untuk para tamunya. Gue pun mem-booking-nya untuk dua malam.

Nunok (Nice Girl)
            Dengan sebuah pelukan hangat, akhirnya gue berpisah dengan gadis baik hati bernama Thanyalak Nunok Nongsin. Thanks Girl.

            Untuk menghabiskan malam, gue mau main ke pasar malam Patong, disana sangat banyak berjejeran penjual makanan mulai dari halal sampai haram, minuman mulai dari jus sampai alkohol dan baju mulai dari baju anak sampe baju gajah ada di pasar malam Patong. Gue membeli nasi ayam rempah seharga 60 Bhat untuk mengganjal lambung gue yang udah merinding disko.

Pasar Malam Patong
            Gue melanjutkan berjalan kaki menuju Bangla Road, Bangla Road adalah nama sebuah jalan yang gak terlalu panjang, tapi Bangla Road ini menjadi pusat keramaian di Patong, mungkin Patong lebih tepat menjadi city point dibanding Phuket Town. Banyak bar dan restoran berjejer di Bangla Road, dengan para wanita berbaju seksi dan hot berdiri di depan sebagai front liner bar untuk menarik para turis berkenjung ke bar mereka. Karena gue bukan tipe orang yang suka party dan mabuk-mabukan sambil ngegrepe mbak-mbak cantik yang entah itu cewe asli atau bencong, gue pun hanya lewat aja di Bangla Road untuk menuju Pantai Patong. #PadahalGakGablegDuit.

            Desiran ombak, hembusan angin dan suara gesekan dari daun-daun kelapa yang berjejer sepanjang Pantai Patong yang sepi, membuat gue sedikit rindu sama seorang wanita yang gue suka di Bandung.

Ohhh..
this is how i feel
whenever i'm with you
everything is all about you
too good to be true

somehow i just can't believe
you can lay your eyes on me
if this is a fairy tale
i wish you will end happily


even know we are a part
i can feel you here next to me
here and now i will love
stay with me

let me love you with all my heart
you are the one for me
you are the light of my soul
let me hold you with my arms

wanna feel love again
wanna feel love again
wanna feel love again

and i know love is you
love is you
love is you
#NowPlaying Ten 2 Five - Love is You


(info : buat yang mau coba wanita nakal di daerah Patong, kalian bisa menggunakan jasa pijat plus-plus dengan harga 500 Baht sekali show. Tapi hati-hati, kalian harus memilih dengan jeli mana wanita mana lady boy. Salah-salah bukannya masukin, Eh, malah dimasukin. Kan perih. #17+)

Patong, Palakin isi Kantong

            Matahari sudah terik, membuat kamar yang gue tiduri ini berhawa sangat panas dan pengap, gue bangun agak siang hari ini, karena hostel yang gue tinggali ternyata sangat banyak vampir terbang (dibaca : nyamuk) ditambah dengan kasurnya yang keras, membuat badan gue agak-agak pegel dan gatel minta digaruk. Harga emang gak pernah bohong Boss.

Cheap Charlie's Room