Tampilkan postingan dengan label Gembel Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gembel Lokal. Tampilkan semua postingan

Lombok Gak Pernah Bikin Bosen


Gue adalah seorang backpacker yang jarang banget foto-foto atau harus mengabadikan setiap tempat yang gue datengin. Either, ngejar beberapa destinasi sekaligus, gue lebih enjoy berlama-lama di satu destinasi dan nikmatin apa yang bisa gue nikmatin saat itu. Karena gue selalu percaya, gue akan bisa datengin tempat itu lagi suatu saat nanti, jadi kenapa harus ambisius?

Contohnya Lombok! Entah kali ke berapa gue datengin pulau cantik ini. 3 kali? 4 kali? Nope. Ini kali ketujuh gue main ke Lombok. Pertama gue nginjekin kaki di Lombok itu tahun 2011, waktu itu gue keliling Pulau Lombok dan Sumbawa hampir  1 bulan lamanya.

Apa 7 kali ke Lombok bikin gue bosen? Sama sekali, nggak! Di Lombok, lu akan menemukan banyak banget tempat keren, aktifitas seru, dan tempat yang sama tapi jadi beda, contoh kayak di kawasan Pantai Kuta. Tahun 2011 gue kesana, tempat ini masih kosong gak ada apa-apa, dan ilalangnya tinggi-tinggi. Sekarang? Buset, dah banyak banget cafe dan resto ala Bali! Plus Indomart Alfamart tentunya. Dan karena gue udah 7 kali ke sini, gue bakal ngasih tau kalian, ke mana dan apa aja yang seru di Lombok yang belum pernah gue bahas di postingan Lombok sebelumnya. Check this out!

Nyobain Baju Adat Sasak & Main ke Batu Layar


Dari kebanyakan kalian yang baca postingan ini, gue yakin, terakhir kali kalian pake baju adat pasti pas Hari Kartini atau 17 Agustusan, itu pun pas masih SD, ye kan?

Eh, apa cuma gue?

Purwakarta Keren Juga Ternyata!



Sebelumnya, gue gak pernah main ke Purwakarta. Yang gue tau, kota ini adalah tempat dinasnya bokap mantan gue. Dan gue udah sempet ngomong sama bokapnya kalo gue mau nikahin anaknya, etapi taunya putus. Kan anjeng!

Anyway, balik lagi ke topik pariwisata Purwakarta. Ternyata, walaupun jaraknya gak terlalu jauh dari Bandung, tempat gue tinggal, Purwakarta beda banget sama Bandung! Malah mirip-mirip Sydney lah. Oksigennya.

Ehem..

Ok, jadi gue main ke Purwakarta dalam rangka memenuhi undangan dari kementrian pariwisata untuk sama-sama memeriahkan peresmian air mancur Sri Baduga, yang konon air mancur ini bakalan jadi air mancur terbesar dan terkeren di Asia Tenggara. Yang di Singapur mah lewat! Cool AF!

Tapi sebelum ke acara inti, gue diajak dulu muter-muter ngeliat beberapa tempat yang keren yang nantinya bisa gue, atau lu yang baca, jadiin short escape kalo lagi bete di kota asal lu. So here we go..

Kulineran Sate Maranggi


Gak ke Purwakarta namanya kalo gak nyobain Sate Maranggi! Bahkan walaupun sama-sama bernama sate maranggi, tapi ternyata cara penyajian sate maranggi itu berbeda-beda loh di setiap daerah di Purwakarta. Misal contoh di utara Sate Maranggi disajikan dengan nasi dan saus kacang, di Selatan kamu bisa menemukan sate maranggi yang disajikan dengan bawang dan cabe rawit mentah yang bisa di makan gitu aja.

Sate Maranggi sendiri umumnya adalah sate sapi atau domba yang disajikan 3 potongan daging setiap tusuknya, dan biasanya potongan kedua adalah gajih atau lemak. Bukan, bukan gaji yang cuma lewat di rekening lu doang itu. Bukan.

Menikmati (Hampir) Infinity Pool di Resort Giri Tirta Kahuripan


Kontur Purwakarta itu hampir mirip kayak Bandung, ada dataran rendahnya di kota, ada dataran tingginya kayak di Lembang. Nah, untuk mengunjungi Resort Giri Tirta Kahuripan, kamu cukup berkendara sekitar 1 jam aja dari kotanya. Ada apa di sini?

Di sini, kamu bisa nikmatin Skypool sambil berenang-berenang lucu sambil nikmatin landscape yang bikin stress kamu pasti ilang. Selain kolam renang, di sini juga kamu bisa berargo wisata, naik mobil safari yang bakal ngajak kamu muter-muter ngeliat koleksi flora dan faunanya. Dan, yang paling penting di sini kamu bisa metik dan makan langsung buah-buahan segar asli Purwakarta, yaitu manggis!

Bukit Panenjoan



Nah, ini nih wisata baru di Purwkarta yang gak sengaja ditemuin oleh pemuda-pemuda setempat, dan akhirnya malah jadi hits karena di posting oleh sang Bupati, Bukit Panenjoan namanya. Sama kayak Tebing Keraton di Bandung, Bukit Panenjoan ini banyak didatengin anak-anak muda Purwakarta untuk selfie atau foto-foto lucu buat bahan instagram mereka.

Di Bukit Panenjoan, kamu bisa liat bentangan luas perkebunan teh, gunung, sampai waduk Jatiluhur. Tapi gue rekomendasiin dateng ke sini pagi aja, soalnya sore seringnya mendung. Oiya, tempat ini juga cocok buat dijadiin sunset spot.

Pusat Gerabah Plered



Kalo kalian pas SD masih inget pelajaran tentang daerah penghasil gerabah atau keramik, pasti Plered adalah jawabannya. Di sini kalian bisa melihat kesenian gerabah mulai dari masih tanah liat sampai jadi berbagai macam aneka bentuk keramik yang keren-keren. 

Santai Di Situ Wanayasa


Masih berada di dataran tinggi Purwakarta, di Situ Wanayasa kamu bisa menikmati bentangan danau luas Wanayasa sambil ngopi-ngopi di kios-kios pinggir jalan. Pas gue kesana, ternyata banyak juga yang bersepeda di sini. Jalanan yang bagus dan kontur naik turunnya mungkin cocok buat ngelatih otot betis kamu dengan bersepeda. Kalo gue sih ogah! Mending ngopi, ngerokok, makan gorengan. Terbaik!

Hopping Museum



Salah satu yang bikin gue amaze sama Purwakarta. Ternyata di Purwakarta banyak banget museum-museum yang keren dan modern banget! Ada beberapa museum yang gue suka, pertama Galeri Wayang yang berada di sebelah kantor Bupati Purwakarta. Di sini lu bisa liat berbagai macam jenis wayang, mulai dari wayang golek sampai wayang kulit, bahkan ada wayang yang terbuat dari rotan. Desain galerinya pun keren dan modern.



Yang kedua, Museum Diorama Bale Panyawangan. Museum ini berada di jantung Kota Purwakarta. Museum yang banyak menceritakan banyak sejarah tentang Purwakarta dan macam-macam hal tentang kesundaan ini perlu banget kamu datengin. Karena selain bersih, ber-AC, berteknologi tinggi, yang jaganya pun cantik-cantik. Sumpah gue.


Ketiga dan yang paling baru, Museum Diorama Nusantara. Sejujurnya gue belum pernah liat masuk ke dalam museum ini karena waktu gue ke sana, museum ini masih dirapihin dalemnya. Tapi kalo di liat dari luar, museum ini bakalan gak kalah keren dari museum-museum yang ada di Purwakarta. Katanya di sini kalian bisa belajar sejarah nusantara dengan banyak permainan menarik di dalam museumnya.

Air Mancur Sri Baduga

Last but not least, Air Mancur Sri Baduga. Terletak di Taman Sri Baduga, Air Mancur ini disebut-sebut sebagai air mancur terbesar di Asia tenggara.

Diresmikan pada tanggal 18 Februari 2017, taman yang punya luas 2 hektar ini menyedot banyak animo masyarakat Purwakarta. Bukan cuma Purwakarta deng, bahkan sampai ke luar kota. Untuk melihat pertunjukan air mancur dan lasernya, kamu bisa dateng ke Taman Sri Baduga pada malam minggu pukul 19.30 dan 21.00 WIB. Jangan lupa juga bawa pacar. Abis itu lu dorong pacar lu nyebur ke air mancur. Hahahak!


Yaudah, jadi kapan mau  ke Purwakarta?

Ombak Sunset Hotel dan Sepotong Cinta di Gili Trawangan


Saat bikin postingan ini, gue lagi nulis sambil anteng dengerin Perfect Strengers-nya Jonas Blue featuring JP Cooper. Kalo lu gak tau Perfect Strenger, coba jangan nonton Dangdut Academy Indosiar atau Anak Jalanan mulu dan mulai denger lagu-lagunya Jonas Blue.

Terus apa hubungannya lagi itu sama cerita yang akan gue ceritakan kali ini? Let me know you, my lovely readers..

Wisata Sehari Di Lombok Tengah


Lombok, Guemas. Lo mbok-mbok, gue mas-mas. Apasih!

Jadi gini, dari tahun 2011 Lombok mengganti bandara utamanya yang awalnya di Bandara .... yang terletak di tengah Kota Mataram, Lombok Utara. Dengan Lombok International Airport di daerah Lombok Tengah. Yang di mana, Lombok Tengah itu jauh banget dari ibu kotanya Mataram. Saking jauhnya, lu berangkat masih muda, nyampe Mataram bisa udah punya cucu dua. Saking jauhnya.

5 Alasan Kenapa Lu Kudu Ke Bali Utara


Bosen sama postingan gue tentang Bali? Sama, gue juga bosen nulisnya. Tapi ya gimana, Bali selalu punya sesuatu yang baru buat gue share ke kalian. Dan, kan gak perlu alasan buat ke Bali, saking lu bisa ngapain aja dan seru-seruan di sini.

Nusa Penida The Underrated Destination


Pernah ke Bali? Pernah ke Sumba? Pengin ke Bali dan ke Sumba sekaligus tapi ada di satu tempat?  Nusa Penida jawabannya.

Kenapa Nusa Penida gue nilai underrated? Selain karena tempat ini minim publikasi, pamornya yang tertutupi Bali juga jadi salah satu alasannya, padahal Nusa Penida adalah salah satu destinasi yang gue kasih nilai paling tinggi dan reccomended untuk dikunjungi.

Si Lumba-Lumba di Lovina


Selain objek wisata, satwa khas daerah terkadang menjadi salah satu daya tarik untuk orang mau berwisata ke sana. Contoh, Derawan dengan Black Manta-nya, Tanjung Puting dengan putingnya puting Orang Utannya,  Nusa Penida dengan Mola-Molanya, dan Lovina dengan cewek-ceweknya yang cantik. Eh, lumba-lumbanya, deng. Maap maap..

Brahmavihara Arama, Abis Ibadah Langsung Mandi Air Panas



Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Kalo biskuit, ya Mayora.

Ini apaan sih!

Liburan di Bali kali ini, gue nyoba buat datengin tempat-tempat yang gak mainstream buat anak keren model gue. Kuta? Bosen. Legian? Ahelah. Seminyak? Pandawa Beach? GWK? Hooaaam..

Neraka Transportasi - Insiden Pencabulan (Part 2)


Sebelum lu baca postingan ini, ada baiknya luaca cerita sebelumnya >> Neraka Transportasi - Insiden Pencabulan (Part 1)

Kenapa? Karena kalo gak baca yang sebelumnya, lu bakal kebingungan, terus galau, terus bunuh diri. Percaya sama gue.

.......


Neraka Transportasi - Insiden Pencabulan (Part 1)


Siapa yang pengin masuk neraka? Bahkan, pemain debus asli Banten yang kebal sama api aja males buat mampir ke sana, padahal udah dikasih undangan tuh sama Dajjal disuruh ke rumahnya.

Dari Greenbowl Sampai Penglipuran, Desa Terbersih Di Dunia


Ini kali ke-23.021 gue ke Bali. Tapi namanya Bali, ada aja sesuatu yang baru buat dikunjungin. Apalagi sama pacar. Ihik!

Dan di postingan kali ini, gue mau cerita tentang salah satu pantai yang masih jarang banget di datengin orang, padahal letaknya sebelahan banget sama Pandawa Beach yang lagi tenar-tenarnya itu. Namanya Greenbowl, atau kalau dalam bahasa Syria artinya adalah “Aku Yahudi”, dalam bahasa Romawi Kuno artinya “Aku Cinta Israel” dan dalam bahasa Ciwidey adalah “Kumaha Sia!”

Takdos Travlog - The Badass Raja Ampat


Raja Ampat..

Rasanya gak perlu gue sebutin gimana kerennya destinasi yang satu ini. Jadi lu langsung liat videonya aja, dah! Cekidot!!

Seseruan Gerhana Matahari Total di Palembang!


Buat anak tahun 90an, mungkin dulu suka nonton sinetron laga yang judulnya Gerhana. Sinetron yang dibintangi Pierre Roland sebagai Gerhana ini menceritakan seorang anak yang lahir pada saat gerhana, dan kejadian itu bikin dia punya kekuatan buat ngepelantingin orang ke Madagaskar hanya dengan kedipan mata. Luar biasa. Luar biasa gak jelas!

Ranau, Danau Kedua Terbesar di Sumatera


Mungkin gak banyak yang tau tentang Danau Ranau, karena kebanyakan orang lebih tau gue Danau Toba sebagai danau terbesar di Sumatera, bahkan Indonesia. Danau Ranau terletak di Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya Ogan Komering Ulu Selatan.

Untuk mencapai Danau Ranau, kalian bisa menggunakan travel dari Palembang dengan ongkos sekitar Rp. 130.000,- untuk sekali perjalanan yang menempuh waktu sekitar 5-7 jam lamanya. Danau yang membentang luas dan masuk ke 2 daerah Provinsi (SumSel dan Lampung)  ini cakep banget! Gak kalah cakep sama Danau Toba.

Apa Aja Yang Bisa Lu Nikmatin Di Raja Ampat Dengan Murah



Nerusin postingan cerita gue di Raja Ampat, ah~

Kali ini, gue mau posting, kemana aja sih gue pas di Raja Ampat? Gak mungkin juga kan udah jauh-jauh ke Raja Ampat tapi gue cuma diem mulu di kamar sambil maenin titit instagraman? (eh, btw, follow ig gue kek, nyet, di “takdos”).

Udah follow?

Udah belom?

Follow dulu instagram gue takdos.

Cara Murah Ke Raja Ampat


Ketika gue tanya tentang destinasi mana yang jadi impian mereka di Indonesia, 10 dari 8 orang backpacker menjawab Raja Ampat.  2 orangnya ibu hamil, jadi diitung dua. Eh, tapi yang satu hamilnya kembar, deng. Jadi 11 dong, yah? Eh, tapi belom tentu selamet, deng. Ah, auk ah. Bodo amat!

Nah, ngomong-ngomong tentang Raja Ampat. Gue sebagai backpacker gembel juga pernah ke sana. Dan bujet yang gue keluarin buat 6 hari di sana, dengan tiket pesawat, tidur, makan, island hoping (2 kali) dan lain-lain dari Jakarta, terus ke Raja Ampat, sampai balik lagi ke Jakarta adalah..

1.677.000 Rupiaaaaah!

Raja Ampat Murah Banget!



“Kata Siapa Ke Raja Ampat Mahal?” itu adalah pertanyaan yang bakal gue lontarkan ke elu, ke elu dan ke elu, kalo elu masih mikir-mikir juga ke Raja Ampat dengan alasan “Ah, ke Raja Ampat mah mahal”. Salah satu destinasi dengan landscape, pemandangan, bawah laut, sunset, dan semua yang indah-indah yang ada di sana ini ternyata gak susah-susah banget, gak mahal-mahal banget, dan gue gak akan ragu untuk nyebutin kalo Raja Ampat adalah salah satu surga terakhir di muka bumi.

Cukup dengan keberanian + keberuntungan, lu gak harus ngitung banyak duit untuk bisa nyampe ke Raja Ampat. Kecuali lu yang tinggal di Raja Ampat. Ya elu udah ada di Raja Ampat, ngapain juga masih bingung mau ke Raja Ampat? Ah, keler nastar!

Mendadak Jadi Turis di Kota Sendiri – KAA2015



“Apa yang paling dicintai dari Bandung?”
 
Pertanyaan yang sulit gue jawab sampai sekarang, hampir 24 tahun gue tinggal di kota yang namanya bisa menjadi kata kerja (nge-Bandung) saking nyaman dan cantiknya kota ini. Dibanding menjawab apa yang paling dicintai dari Bandung, gue lebih seneng kalo ditanya “Apa yang paling dibenci dari Bandung?” at least jawaban gue akan lebih singkat.

Tanjung Lesung - Menyelamatkan Kewarasan Sejenak

Sebelumnya, yang gue tau dari Pandeglang, Banten dan sekitarnya itu cuma dua hal. Seni bela diri Debus dan walikota Banten, Ratu Atut yang berkosmetik tebal. Gak ada yang lain. Sampai akhirnya, pekan kemarin, di tengah kesibukan bisnis gue (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ehem..

Sampai akhirnya, pekan kemarin, di tengah kesibukan bisnis gue (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ehem..

Ini apaan banget, sih!

Penculikan Anak Batak

 




Di suatu pagi yang cerah di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara.
“Ucoooooook!! Bangun kau!! Jam 7 sekarang! Sudah siang ini, nanti telat kau pergi sekolah! Ini adik-adik kau Mamak harus urus juga. Bangun cepatlah kau!”
“Hemm.. Lima menit lagi saja lah, Mamak.”
“Ah, kau ini pemalas!”
30 menit kemudian..
“UCOOOOOOOK!!! KAU BELOM BANGUN-BANGUN, HAH?? JANGAN MALAS SEKOLAH LAH KAU UCOK. KAU MAU MACAM BAPAK KAU, JADI TUKANG OJEK??”
“Hemm.. emang jam berapa ini Mamak?”
“INI SUDAH JAM SETENGAH DELAPAN TAU!!”
“HAH? ASTAGA! TELAT AKU!”
Pagi di Pulau Samosir pun semakin cerah.
Namaku bukan Ucok, tapi Gunawan. Karena aku dari keluarga Batak, maka panggilan untuk anak lelaki macam aku ini, Ucok. tapi kadang-kadang aku dipanggil Monyet oleh Mamakku ketika aku ketauan ngintipin Leli, anak tetangga seumurku yang lagi mandi. Aku anak sulung dari 5 bersaudara. Usiaku masih 8 tahun dan aku bersekolah di salah satu SD di Samosir, aku kelas 3. Aku punya 4 orang adik. 3 orang perempuan dan satu laki-laki, bungsu. Mamak ku galak banget, kalo Mamak sudah marah, semua orang di rumah pada tutup kuping karena takut gendang telinga pada pecah. Semua orang, termasuk Bapak.
Bapakku, sehari-hari bekerja dengan motornya. Bukan, Bapak bukan pembalap moto GP. Bapak ku adalah tukang ojek paling terkenal di Pulau Samosir. Kenapa Bapakku bisa terkenal? Karena  dulu dia pernah ngebonceng Presiden Suharto. Iya, beneran. Bapak dengan bangganya sering banget cerita kalo dia bangga bisa jadi tukang ojek, kata Bapak, itu adalah keputusan yang paling tepat di dalam hidupnya. Gara-gara jadi tukang ojek akhirnya Bapak bisa ngebonceng Presiden Suharto saat berkunjung ke Pulau Samosir. Tapi disela-sela ceritanya, Bapak selalu bilang, keputusan yang paling dia sesali adalah menikah dengan Mamak. Mamak pun kembali marah besar.
Pagi ini sama seperti pagi biasanya. Sama kayak orang kota yang tidak suka hari senin, aku pun tidak suka hari senin. Aku selalu membayangkan, andaikan aku bisa libur setiap hari, bisa bebas main dan gak harus bangun pagi. Sebenarnya aku tidak suka sekolah. Buat apa sekolah? Presiden sudah ada, Menteri pun sudah banyak. Orang-orang di kampungku ini paling-paling nantinya jadi petani, jadi tukang ojek macam Bapak, atau paling bagus jadi sopir angkot di Kota Medan.
Setiap hari pun aku harus jalan kaki lumayan jauh buat bisa bersekolah, belum lagi kalo aku telat bangun seperti sekarang, aku harus lari ke sekolah supaya gak telat-telat amat. Ya, kadang Bapak nganter aku sih sebelum kerja, tapi itu pun kalo Bapak bangun pagi.
Oiya, aku lupa, sekarang pelajaran matematika, Bu Endang. Mati muda aku!
Tok.. tok.. tok..
“Selamat pagi ibu. Maaf aku terlambat.” Ucapku sambil membuka pintu kelas yang tengah belajar.
“Bah, Kau lagi, kau lagi. Sering kali kau terlambat, Gunawan. Kali ini kenapa kau terlambat? Tolong, jangan bilang kalo kau telat gara-gara terkunci di dalam kamar mandi lagi!” Bu Endang yang terkenal galak langsung menginterogasiku.
“Eng.. eng.. Tidak bu. Aku tidak terkunci di dalam kamar mandi lagi.” Sebagai siswa yang pandai berkelit, aku harus mencari alasan baru yang lebih masuk akal. “Eng.. tadi.. tadi aku sebenarnya sudah bangun pagi, kan. Terus aku pun sudah mandi dan gosok gigi. Pergi dari rumah pun saat matahari belum muncul..”
“Nah, terus kenapa kau bisa terlambat!?” Bu Endang memotong ceritaku yang belum selesai.
“Nah, saking semangatnya pengin belajar, aku langsung pergi ke sekolah, bu. Aku lupa kalo aku masih pakai handuk. Aku balik lagi lah ke rumahku buat pakai seragam.” Keluhku.
“BAH! Macam mana pula kau ini, Gunawan!” Teriak Bu Endang setengah tak percaya dengan alasanku. Untung sih, masih setengah percaya. “Yasudah, cepat kau duduk. Jangan lupa kumpulkan PR matematikamu di meja ibu.” Baru beberapa langkah masuk ke kelas, Bu Endang menyuruhku mengumpulkan PR.
“Hah, PR?” Mampus, aku lupa.
“Jangan-jangan kau belum mengerjakannya, Gunawan? Haduuuuh. KELUAR KAU GUNAWAN!” Teriak Bu Endang ngamuk. Teman-teman sekelasku hanya tertawa terbahak-bahak melihat aku diusir.
Ya beginilah nasibku. Gak sekali dua kali aja aku diusir dari kelas, bahkan sekolah. Terlambat lah, gak ngerjain PR lah, ketauan ngintip toilet cewek lah, ngintip toilet guru cewek lah, berantem, dan masih banyak lagi. Oiya, khusus yang terakhir itu, sebagai anak batak sejati, aku memang suka berantem. Menurutku, anak batak itu harus pandai berantem. Hampir 3 kali seminggu aku berantem. Itu juga yang bikin aku di juluki “Gunawan Jambak” di sekolah. Ngeri, kan, julukanku? Gunawan Jambak. Beuh! Aku mendapatkan julukan itu karena sering berantem dengan Lela, Mutia dan Rini. Trio cewek sok tau.
Karena tadi aku udah diusir oleh Bu Endang, dan karena aku siswa penurut, aku memutuskan untuk pulang lagi ke rumah. Ganti baju, terus lanjut main sama Julius dan Matius, teman mainku di rumah.
Tapi, di perjalanan menuju rumah, aku bertemu dengan seoraang abang-abang berkacamata dengan rambut acak-acakan sedang bawa motor. Bawa motornya pun acak-acakan, dia hampir nabrak aku. Mungkin dia gak tau mana rem mana gas.
“Dek, tau arah museum gak, dek?” Tanya abang berkacamata itu.
“Museum apa, bang?” Tanyaku balik.
“Museum batak, dek. Apa tuh, yang bisa liat tari-tari apa?” Si Abang nanya lagi.
“Tari apa, Bang?” Aku balik nanya lagi.
“Tari batak, dek. Itu loh, yang patung bisa nari sendiri.” Si Abang menerangkan dengan susah payah, tapi aku makin gak ngerti.
“Tari apa, Bang? Patung apa? Abang siapa?” Aku ketakutan kalo-kalo abang berkacamata ini adalah sindikat penculik anak yang sedang ramai aku tonton di TV.
“Bentar Abang ingat-ingat dulu.”
5 menit kemudian..
“Aha!”
“Sudah ingat, Bang?”
“Abang masih lupa. Bentar.”
15 menit kemudian..
“Nah! Patung.. Duh. Susah ingat lagi. Coba kau sebut, ada patung apa aja disini, dek?” Lama aku nunggu, si Abang malah balik nanya lagi.
“Liberty?” Jawabku.
“Bukan, itu mah di Mesir!”