#3 Ho Chi Minh City - Cu Chi Tunnels, Saksi Bisu Perang Vietnam


Ini bukan tuyul, tapi gue !!
 
Hai backpacker gembel keceh, apa kabar nih kalian? Katanya sih sehat-sehat aja yah? Ah, yang bener nih.. (ini apaan sih gak jelas.) Okeh, dipostingan kali ini gue mau sedikit bercerita, lagi-lagi tentang Negara si Uncle Ho, yaitu Vietnam, tepatnya gue mau bercerita tentang sebuah tempat bersejarah. Tenang, belajar sejarah dengan gue ini gak akan nge-bete-in kok, palingan yah banyak bacotan doang. Hoho.

First, siapa yang ga kenal atau gak tahu tentang perang Vietnam? Atau yang lebih dikenal dengan nama Vietcong. (dibaca, Vietkong, bukan Vietcong, apalagi pocong.) Nah, bagi yang gak familiar dengan Vietcong, coba gue gali lagi ingatan kalian. Hemm.. Tau film yang berjudul "Rambo"?? Iya, film perang sepanjang masa yang diperankan oleh Silvestre and Tweety ini memang sempat menjadi film terlaris di-era-nya. Bahkan, filmnya pun dibuat beberapa sekuel, seperti Rambo 2, Rambo 3, Rambo 4, Rambo and Juliet, Rambo Goblet of Fire dan Rambo yang Tertukar. Pokoknya banyak !! Nah, dalam salahsatu episode Rambo itu, ada yang bercerita tentang perang Vietcong, tentu saja dengan latar belakang di Vietnam, masa iya di Cicadas. Kalau mainnya di Cicadas, bukan si Silvester Stellone yang main, tapi preman terminal situ, si Asep Codet. #dibahas

Nih si Rambo lagi nembakin ayam !! (source : google)
 
Nah lagi, setelah gue tonton ulang filmnya, ternyata disitu si Rambo, sebagai pemeran utama, sangat sangat jagoan dan tidak terkalahkan. Percaya atau ngga, semua tentara Vietnam berhasil dia kalahkan dengan mudah banget !! Padahal ceritanya si tentara Vietnam itu banyak banget, sedangkan si Rambo sendirian. Tentara Vietnam nembak pun ga pernah kena ke si Rambo, tapi anehnya si Rambo nembak sekali, yang mati bisa 7 orang !! Terus Amerika menang perang !! MUAHAHAHAHAHA~ sungguh film konyol !!

Dari cerita gue diatas, kalain bisa nyimpulinkan betapa epic-nya film itu, namun sekarang, dipostingan ini, gue akan mengungkapkan suatu fakta yang mencenangkan. Sesuatu yang bakal bikin kalian berpikir, bahwa Amerika itu gak keren-keren amat. So, here we go, guys..


Cu Chi Tunnels, Nerakanya Pasukan Amerika


Cu Chi Tunnels adalah saksi bisu perang Vietnam, pada tahun 70-an, terjadi perang besar antara Vietnam dan Amerika feat Sekutu (Tentara Amerika emang banyak kutu.) Nah, perang ini bisa dibilang perang paling lama dan besar di Asia, mungkin dunia. Entah gara-gara apa perang ini terjadi, tapi menurut ke-sok-tahu-an gue, perang ini terjadi dikarenakan Amerika lagi iseng gak ada kerjaan, mereka pengen aja gitu ngejarah sebuah negara, dan kebetulan negara yang terpilih itu adalah Vietnam. Amerika masuk ke Vietnam pada awal tahun 70, mereka membombardir hampir semua wilayah Vietnam. Namun, karena terlalu senga dan urakan, akhirnya warga Vietnam tidak tinggal diam. Mereka sontak melawan dengan elegan. Sadar mereka tidak akan menang bila perang secara langsung dengan Amerika dikarenakan persenjataan mereka yang ala kadarnya, mereka memutar otak. Akhirnya, mereka membuat sebuah strategi perang dengan gorong-gorong sebagai medianya. Yah, mereka membuat terowongan bawah tanah (Tunnels) didaerah yang nantinya disebut Cu Chi.
 

Dari Ho Chi Minh City ke Cu Chi Tunnels

Perjalanan gue menuju Ho Chi Minh City ini bisa dibilang perjalanan spontan, sama hal-nya dengan Toul Sleng Museum di Phnom Penh, Cambodia. Gue pun pertama kali tahu tentang Cu Chi Tunnels ini dari sebuah acara TV swasta Indonesia. Entah kenapa, selalau ada ketertarikan khusus untuk bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah, entah itu bekas perang atau bahkan tempat pembantaian massal. Nah, saat trip keliling Asia Tenggara ini, kebetulan gue dan Veby punya kesempatan buat datang ke Cu Chi Tunnels, karena waktu kita di Ho Chi Minh lumayan banyak.


Untuk mengunjungi Cu Chi Tunnels, biasanya wisatawan memilih untuk mengambil paket tour yang banyak disediakan oleh travel agent di kawasan backpacker. Paket tour menuju Cu Chi Tunnels ada dua pilihan, yaitu full day dari pukul 08.00 sampai 18.00, itu termasuk kunjungan ke berbagai tempat lain seperti tempat pembuatan kerajinan Vietnam dan Cao Dai Temple. Untuk yang half day hanya sampai pukul 15.00 saja, dan hanya mengunjungi Cu Chi Tunnels saja. Tiket untuk full day tour kira-kira 10 - 16 USD, sedangkan yang half day tour adalah 5 - 8 USD. Harga tersebut hanya untuk meng-cover transportasi bus dan tour guide saja. Tidak termasuk tiket masuk ke Cu Chi yang berbandrol 80.000 VND atau sekitar Rp. 40.000,-

Bus no. 13

Nah, karena gue backpacker gembel nan keceh, dan haram hukumnya memakai travel agent selama masih bisa independent. Maka gue dan Veby mencoba menuju Cu Chi Tunnels memakai angkutan umum, bus. Ternyata tidak terlalu sulit untuk menuju Cu Chi Tunnels, gue hanya perlu menuju terminal bus yang berada di tengah kota, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus no.13 menuju terminal Kin Tuoch dan naik lagi bus no. 79 menuju Cu Chi Tunnels. Sampai deh !! Mudah dan tentu saja murah !! Diitung-itung berdua cuma abis 48.000 VND atau sekitar Rp. 24.000,- dan cuma memakan waktu kurang lebih 1 jam saja. Coba bayangkan kalau kita harus bayar seorang Rp. 60.000,- nehi nehi deeeh~

Gerbang masuk

Sesampainya di pemberhentian bus, kita diharuskan sedikit berjalan menuju gerbang Cu Chi Tunnels, gak terlalu jauh kok jalan kakinya, kira-kira 37 langkah kita sudah sampai gerbang. Disini, kita harus membeli tiket untuk masuk, tiket terdiri dari 4 bagian, yaitu tiket masuk ke kawasan Cu Chi Tunnels, tiket masuk ke Cu Chi Tunnels nya, tiket tour guide (kalau gak salah) dan terakhir tiket untuk snack diakhir tour Cu Chi Tunnels. Awalnya gue pikir harganya mahal banget, satu orang diharuskan membayar 80.000 VND, jadi 1 tiketnya itu seharga 20.000 VND. Kita musti beli keempat tiket itu, gak bisa diketeng satu-satu, lo kira beli kutang apah !! Walaupun harga tiketnya mahal, tetapi worth it banget loh !!

#2 Ho Chi Minh City - Yang Enak-Enak Dari Vietnam



Melanjutkan postingan tentang Ho Chi Minh City sebelumnya,

Ok. Mari kita awali postingan ini dengan sebuah tebak-tebakkan khas Vietnam, para backpacker gembel. Jadi gini tebakannya.. "Bebek, bebek apa yang suka traveling?" #DimanaKhasVietnamNyahDis? :|

Okeh, ini garing. Dan jawabannya adalah Bebek packing, atau nggak Bebekperker. Garing Level : INFINITY !! #krik #krikkuadrat

Jadi, kenapa gue ngomongin bebek? karena eh karena, postingan kali ini gue bakal membahas kuliner-kuliner khas Vietnam. Pokoknya yang enak-enak deh. As what we know, selain keindahan alam, kuliner adalah salah satu faktor yang bisa menarik wisatawan untuk mengunjungi sebuah destinasi/ tempat wisata. Setuju?

Contoh di Bandung deh, tempat gue memamah biak dengan sempurna ini. Di Bandung, lo bisa dapetin banyak makanan mulai dari yang enak sampai yang super enak, dari yang ringan sampai yang berat, dari yang murah sampai yang mahal, semua komplit tersedia di Bandung. Nah bagaimana dengan Ho Chi Minh City? Yang katanya sih, rasa makanannya gak jauh-jauh dari Bandung, sama-sama suka pakai lalapan (sayur-sayuran mentah)

So, walaupun gue gak banyak jajan-jajan atau nyobain banyak makanan disana karena berhubung duit cekak dan buat beli sesuatu harus mikir dua kali, maka izin-kan gue yang ganteng ini untuk menunjukkan dan meng-deskripsikan beberapa makanan dan minuman yang pernah gue coba di Ho Chi Minh City, Vietnam. So, here we go..

Baguette (Roti Vietnam)
 

Selain nasi, roti inilah yang menjadi makanan pokok warga Vietnam. "Lah kok, bisa makanan pokoknya berupa roti, dis? Sok, Eropa lu !!" Eits, tenang dulu bangsat !! Hal ini tentunya terasa wajar, karena dulu, waktu gue sama lo belum lahir, Vietnam pernah dijajah oleh Perancis selama kurang lebih 107 tahun (1847-1954). Bahkan Vietnam pernah dijuluki "Paris of the Orient" karena kebiasaan Perancis yang suka memakan roti menjadi kebiasaan yang terbawa kepada warga Vietnam itu sendiri. Same like Bandung, right?? Bandung dijuluki "Paris Van Java." #FYI

Nah, roti baguette ini telah berganti nama saat masuk ke Vietnam, menjadi Banh Mi. Gak keceh yah namanya. Selain dimakan apa adanya, Banh Mi juga biasanya dimakan layaknya sandwich dengan diisi oleh irisan acar, daging, wortel, ketimun, daun ketumbar dan diberi saus yang disebut Nuoc Cham. Saus khas Vietnam yang terbuat dari campuran cabe, bawang, gula, kecap ikan dan cuka. Tsaaah.. jago yah gue~

Harganya pun relatif murah, sekitar 6.000 Dong, atau sekitar Rp. 3.000,- sajaaaaah~
 

Banh Mi biasanya bisa dimakan untuk sarapan, makan siang, makan malam atau bahkan sebagai selingan penahan lapar saja. Bedanya Banh Mi dan Buguette ala Prancis adalah dalam hal ukuran, buguette biasanya memiliki panjang 50 - 60 cm. Sedangkan Banh Mi lebih pendek, yaitu 25 - 30 cm. Yah, sama deh kaya perbandingan ukuran titit orang Prancis sama Vietnam. #eh *ditoyor piring*

"Kalo gue mau nyari Banh Mi dimana nih, dis? Di tukang tambal ban ada gak?"

#Hening #SangatHening

Hemm.. mau tau aja apa mau tau banget nih? Jadi gini, Banh Mi ini dijual hampir diseluruh pelosok jalan Ho Chi Minh City, sangat mudah untuk mencari roti ini. Biasanya mereka dijual dikeranjang besar, dibawa oleh ibu-ibu yang biasanya teriak-teriak.. "pang treng dung cess.." Artinya : "Ada roti nih.." Begitu kurang lebihnya saudara-saudara.

Lanjut..
 
Lumpia Telor ala Vietnam
 

Sebenernya gue gak tau apa nama makanan ini, yang jelas makanan ini adalah salah satu jajanan populer di Vietnam. terbukti di taman-taman kota banyak banget yang jual beginian. Terbuat dari kulit lumpia keras, diolesi mentega dan diberi telor puyuh, lalu campuran bumbunya adalah bawang daun, irisan kecil wortel, ebi (udang kecil kering), daging ayam atau daging babi dan kalau mau pedas bisa ditambahkan sambal. Cara masaknya lah yang sebenarnya bikin gue pengin nyobain makanan ini. Yah, lumpia telor ala Vietnam ini menggunakan teknik grilling, atau dibakar diatas tungku dengan arang sebagai mediator panasnya. #GueMantanAnakKitchen *kibas rambut* 
 

"Rasanya gimana, dis? Kaya lumpia deket pengkolan, gak?" <-- anak pengkolan. Hemm.. Karena lidah gue sudah terlatih oleh mie sedaaaap yang katanya lidah gak pernah bohong , maka dengan berat hati gue bilang makanan ini gak terlalu enak, rasanya anyep dan tawar. Mungkin si mbok yang jualan lupa bubuhin garem sama merica. But well, patut dicoba kok. Harganya pun cukup murah, yaitu 10.000 Dong, atau sekitar Rp. 5.000,- sajaaaah~ :)
 
Pho Mie
 
Si ganteng lagi makan Pho Mie :">

#1 Ho Chi Minh City - Kota Lautan Motor



Vietnam, Komunis yang Gak Bengis

Kalau Indonesia adalah seorang anak manusia, mungkin Vietnam adalah adik perempuan dari Indonesia, namun beda Bapak. (Konon Ibu-nya selingkuh karena terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya saat memerankan Aisyah dalam sinetron, Kakek-kakek cari mantu) #Opoiki

Jadi begini, maksud gue..

Begitu banyak kemiripan Vietnam dengan Indonesia, baik dari insfrastruktur hingga prilaku orang-orangnya. Saat perjalanan gue keliling Asia Tenggara selama 24 hari bareng pacar, Ho Chi Minh City, Vietnam adalah destinasi terakhir kita. Tempat kita akan bertolak untuk pulang ke Indonesia. Awalnya gue kira negara komunis ini gak bersahabat. Seperti apa yang kita tahu, dari SD kita sudah dicekoki pelajaran-pelajaran sejarah yang memperlihatkan bahwa komunis itu kejam dan beringas !! Pembunuh, tukang bantai, gak ber-pri-kemanusiaan, tertutup, arogan, mau menang sendiri, pembangkang, penjarah, nasi 2, lotek 4 bungkus yang pedes 2 biji jangan lupa dikasih karet sama Indomie rebus dibungkus plastik pake sedotan. 

Dan Vietnam adalah salahsatu negara komunis. Well, gue masuk Vietnam udah siap badan kalau tiba-tiba pas lagi jalan ada yang ngebacok dari belakang.

Lambang palu arit dimana-mana !!

Ternyata anggapan gue salah. Walaupun negara berlambang palu arit ini menanam konsep komunis dalam pemerintahannya, tapi toh tidak ada yang beda dari negara kita sendiri. Malah gue pikir infrastruktur dan pemerintahannya lebih tertata rapi.

Terus apa hubungannya Indonesia dan Vietnam? Yah, sejak lama Vietnam dijuluki Indonesian's young sister. Sama hal nya dengan Shireen Sungkar dan Zaskia Sungkar yang membuat duet maut nan aduhai, "The Sister" yang akhirnya bubar karena Zaskia menikah dengan Irwansyah. Ah, entah gue ini bahas apa !! Bodo ah !!

Lanjuuuut~

Namun si adik ini ternyata boleh dibilang sedang bersolek. Yah, Vietnam sedang menata pariwisatanya dengan baik dan berangsur maju. Mereka menyediakan banyak destinasi pariwisata yang keceh, mulai dari alam, sejarah hingga bangunan-bangunan. Pokoknya mereka mengerahkan dan mempromosikan pariwisata mereka semaksimal mungkin.

Nah, kebetulan waktu itu gue hanya mengunjungi Ho Chi Minh City saja, yang kebanyakan didominasi oleh wisata sejarah dan bangunan bersejarah. Jadi daritadi nge-bacot tentang komunis, pariwisata, shireen sungkar dan lain-lain, intinya gue pengin ngasih tau aja, apa sih yang jadi trademark tersembunyi di Ho Chi Minh City ini. MUAHAHAHA~

Jadi apa "trademark" tersembunyi khas Ho Chi Minh City? Mari gue urai satu persatu..

1. Lautan Motor

Ho Chi Minh City dulu bernama Saigon. Karena untuk menghormati sang revolusioner sejati, maka kota Saigon berganti nama menjadi nama sang revolusioner, Ho Chi Minh City. Lalu apa hubungannya antara sang revolusioner dengan motor? Mari gue jabarkan sedikit pengetahuan yang gue punya ini secara ngaco.

Jadi dulu Vietnam sangat tertinggal dibandingkan Indonesia. Kalau Indonesia sudah memiliki bioskop, Vietnam baru punya TV tabung yang ditonton orang se-RT. Kalau dulu Indonesia sudah memiliki bangunan gedung bertingkat 10, Vietnam punya bangunan tingkat 3 aja udah alhamdullilah. Nah inti dari informasi gue ini adalah, karena ekonomi berevolusi semakin maju, bahkan sudah sama dengan Indonesia, Vietnam mulai menata semuanya. Revolusi ini pun berdampak kepada ekonomi para warganya. Sekarang, hampir semua warga Vietnam memiliki motor. Bahkan menurut survei Family 100, jumlah motor dengan jumlah penduduk Vietnam lebih tinggi jumlah motornya, hampir 2 sampai 3 kali lipat. Tapi please, jangan ngebayangin satu orang Vietnam bawa 2 atau 3 motor sekaligus di jalanan, yah. Please !!

Haters = Motivator Terselubung


eheeeem.. uhuuuk.. eheeeem.. heeeemm..

*minum konidin*

Oke. Gue bakalan mulai nulis nih guys,
Sebenarnya gue gak pengen tulisan ini ada di blog gue, cuma yah bagaimana lagi, daripada gue nulis di tembok kamar kan mending gue nulis disini. Tapi intinya bukan itu guys, gue nulis disini karena memang ada yang harus gue tulis. Biar apa? Biar semuanya jelas, dan mungkin bisa jadi pelajaran juga buat gue dan kalian. Terus di postingan ini gue mau nulis apa? Okay mari kita mulai..

Mungkin memang kesalah pahaman, mungkin juga memang disengaja. Ada yang salah tanggap karena tidak bertanya langsung ada juga yang asal nebak hingga masalah menjadi tanggung.

Entah darimana bakalan gue mulai membahasnya. Mungkin semua berawal dari twitter. Dulu gue pernah berdiskusi cukup seru dengan beberapa orang teman di twitter tentang masalah guide book for traveling. Gue suka diskusi, walaupun gue sendiri dan berdiskusi dengan banyak orang, walaupun diskusinya panas, pasti ada pembelajaran yang gue dapet dari situ. Awalnya diskusi memang on topic, membahas guide book. Namun lama kelamaan makin banyak orang yang nimbrung dan asal jeplak. Gue mulai gak nyaman dengan diskusi itu, lalu gue memutuskan untuk menyudahinya dengan cara meminta mereka yang kontra untuk bertanya kepada penulis guide book langsung (kebetulan penulis guide book itu temen gue), biar jelas dan selesai. Adil !!  Seperti apa yang gue lakukan ketika gue gak suka perkataan dari penulis buku Miss JingJing, gue langsung ngomong ke penulisnya. Gak ada yang marah, diskusi selesai, masalah selesai. Karena gue udah bersikap biasa lagi dengan mereka, pun begitu sebaliknya.

Namun ternyata masalah belum selesai buat mereka. Bukan lagi masalah diskusi kemarin yang mereka bahas, malah mereka bahas masalah pribadi. Ngata-ngatain trip-trip yang gue lakuin, menjelekkan gue dan sebagainya, dan gue sama sekali gak respon itu, soalnya gue tau kalau gue respon mereka, masalah bakalan lebih ricuh. Setelah gue menerbitkan buku WIB, ejekan dan olokan mereka semakin menjadi. Entah apa motivasi mereka. Malah ada diantara mereka yang bilang..

"Trip murahan..bla.. bla.. bla.."
"Yaelah, bikin buku indie doang bangga.."
 "blaa.. blaa.. bla.."
dan sebagainya,

Gue masih bisa tolelir dan bersabar kalau mereka ngejek gue secara pribadi. Karena gue anggap itu cuma haters! Tapi nggak dengan karya gue. Jelas gue bangga bisa bikin dan punya buku sendiri, walaupun itu indie publishing. Gue bikin buku WIB itu selama setahun lebih, dengan segala usaha yang gue laukkan untuk membuat buku tersebut. Karya gue, pasti gue hargai sebagaimana gue selalu respect kepada semua orang yang terus berusaha untuk berkarya, mengejar mimpinya.

Be thankful for having haters, they are the ones who take time out of their lives to watch your wrong moves.

Semua cibiran mereka gue terima tanpa gue balas sama sekali. SAMA SEKALI GAK GUE BALAS. Mereka mention langsung berkali-kali pun nggak gue gubris. Karena gue tau, mereka akan senang kalau gue respon dan terpancing oleh hasutan mereka. Tapi terkadang walaupun kita sudah bersikap legowo dan santai, para haters itu semakin menjadi-jadi mencibir buku gue di twitter. Bagi mereka, kesenangan mereka bersama adalah apabila melihat gue mencek-mencek kebakaran jenggot karena cibiran mereka. *pura pura sedih*

Tapi karena katanya "sabar ada batasnya" yah mendidih juga darah Sumatera gue. Maka gue telepon langsung orangnya, karena telepon gak nyambung terus gue mention lah langsung via twitter, karena cuma itu cara yang ada dipikiran gue waktu itu. Gue ajak mereka langsung ngomong personal, gak cuma bacot di twitter. Gue kasih langsung nomer telepon atau langsung ketemuan, karena bukan dengan bacot apalagi di twitter cara lelaki menyelesaikan masalah.

Dan seperti sikap seorang pengecut lainnya, tak ada satupun yang telepon atau sms untuk bicara langsung walaupun udah gue kasih nomer telepon gue. Saat gue tanya langsung pun mereka malah pura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap bodoh. Oh, memang beginilah sikap pengecut.

Jadi bukan karena masalah traveling apapun yang bikin gue emosi. Tenang, gue gak sedangkal untuk berpikir bahwa traveling adalah perlombaan, rasa lebih bangga, atau apapun itu. Emosi gue terjadi, cuma karena satu hal. Gue gak suka orang yang cuma berani bacot di twitter dan bukan menyelesaikan masalahnya secara personal dan langsung. Kalau berani nyinyir atau bacot di twitter, lo juga harus punya keberanian ngomong langsung sama orangnya. Itu baru fair dan bukan banci !!

Gue terus nunggu respon secara personal dari mereka, namun tetap tidak ada sama sekali. Gue tarik napas panjang, dan gue nganggep mereka memang tidak berani menyelesaikan masalah secara personal dengan gue. Dan kebetulan waktu itu gue chating dengan Bang Yudi, dan gue dapet nasihat yang keceh untuk bersikap dewasa. Maka gue berinisiatif terlebih dahulu meminta maaf, mungkin karena terlalu emosi.

Sekarang gue punya prinsip. Terserah orang mau bilang apa tentang karya gue, selama ada orang yang sms, mention ke twitter, email sampai telepon ke gue buat ngucapin terima kasih karena telah terhibur dan terinspirasi dengan apa yang gue tulis. Gue akan selalu senang :)


Ratusan atau bahkan ribuan cacian dan cibiran kalian tidak akan sebanding dengan kepuasan dan kesenangan para pembaca yang diapresiasikan pada buku gue :)
 
Tapi apa yang menjadi pembelajaran gue di masalah ini adalah, dengan adanya yang mencibir, gue lebih bisa bersikap sabar, gue malah lebih termotivasi untuk berbuat lebih banyak, terus berkarya. Kalau mereka bilang gue bangga cuma punya buku indie, gue buktikan tahun ini buku kedua gue, kompilasi cerita backpacker bakalan terbit di GRAMEDIA. Kalau masih mencibir juga karena itu "cuma" buku kompilasi? Tenang sodarah-sodarah, semua perlu proses, dan buku ketiga gue nanti, gue janji bakalan nampang di book store seluruh Indonesia, dengan nama gue terpampang besar di cover depannya !

Dipuji atau dicaci, akan berkarya sampai mati. - Valliant Budi

Whatever I'm Backpacker: Catatan Koplak Petualang Sarap

Taraaaaaaaaaa~

Akhirnya buku gue ada yang nge-review juga, dan orang yang beruntung untuk nge-review itu adalah Lalu Abdul Fataaaaaaaaah~ #Horee #TepukTangan #GebrakMeja #ToyorSBY

Ok.. ehem.. Jadi tanpa basa basi, mari kita simak review-an keceh dari temen gue ini..


Judul          : Whatever I'm Backpacker
Penulis        : Mochamad Takdis
Penerbit     : Mochamad Takdis Publishing
Cetakan     : Pertama, Mei 2012
Tebal         : 172 hlm.

    Oke. Ini buku traveling. Campuran antara travelogue dan travel guide. Tapi, gaya penulisannya tergolong absurd. Kadang, antara fakta dan khayalan dicampur. Mana serius, mana candaan, kadang tak bisa dibedakan. Butuh kecerdasan khusus untuk membaca buku yang narasinya kocak ini. Kalau selera humor Anda kering, disarankan untuk jauh-jauh dari buku ini. Lebih penting lagi, buku ini tidak cocok untuk yang berusia di bawah 17 tahun!

    Baru kali ini saya membaca buku traveling yang ditulis a la Kambing Jantan. Maaf, mau tidak mau saya membandingkan Whatever I'm Backpacker ini dengan buku yang ditulis oleh Raditya Dika tersebut. Sama-sama diangkat dari blog dengan humor yang agak kasar - menurut saya. Andai Si Radit suka menuliskan perjalanannya, mungkin buku ini jadinya.

    Cerdasnya Si Adis adalah ia melihat ceruk momentum buku-buku traveling yang lagi hip di pasaran. Ia terbitkan buku ini lewat jalur indie. Alasannya, idealisme. Bagi saya, sebuah idealisme agar content bukunya tidak banyak dirombak penerbit. Itu kalau bercermin dari buku The Naked Traveler 3 yang sempat ditarik dari pasaran. Andai ia mau bersabar, bisa saja ia menyodorkan buku ini ke Gagas Media, yang seleranya anak muda banget.

    Itu kalau penulis bersabar main di jalur penerbit mayor.

    Bagaimana dengan keputusannya menerbitkan indie? Buku besutan 9 Lights Production ini, boleh saya acungi jempol dari segi kaver. Komikal. Unyu, kalau istilah ABG labil. Kendati kurang kuat kalau dikaitkan dengan judulnya yang bermakna 'semau gue dong jadi backpacker'. Apalagi dengan warna dasar yang tergolong kalem dan rada-rada vintage.

    Di kaver belakang, pembaca akan disuguhi lima endorsements. Komentar mereka rata-rata saya setujui. Intinya sih, tulisan Adis yang liar, meledak-ledak, khas anak muda.

    Isinya, bagaimana? Beberapa ilustrasi di dalamnya berwarna. Saya duga, itu ditangani oleh Mbak Rana (ninelights.multiply.com). Foto-foto traveling penulis ada yang diselipkan satu foto utuh dalam mode black and white, ada pula yang disusun mozaik di tiga halaman berbeda dan itu berwarna. Mantap!

    Sayang, kualitas cetakannya perlu diperbaiki. Entah tintanya yang terlalu kuat atau kertasnya yang tipis, tulisan di halaman baliknya agak membayang di halaman muka. Foto hitam putihnya juga tidak begitu bagus. Masih ada bercak-bercak. Ukuran hurufnya agak kecil, tapi bukan masalah buat saya. Kendati, saya tetap berharap kalau dicetak ulang atau bahkan diterbitkan oleh penerbit mayor, ukuran huruf dan spasinya agak dibikin besar dan lebar biar lega di mata. Buku lo bisa lebih tebal jadinya, Dis! :)

    Oya, halaman 112 di buku yang saya dapatkan langsung dari penulisnya ini, tidak tercetak apa-apa alias kosong. Padahal ceritanya belum kelar. Belum lagi di halaman 113 yang tiba-tiba ukuran hurufnya berubah jadi lebih kecil, kendati isinya cuma post scirpt aja alias P.S. Kesalahan mesin cetaknya ya?

    Bagaimana dengan penyuntingan? Kalau tidak salah, buku ini disunting oleh Mbak Desi (malambulanbiru.multiply.com). Beberapa ejaan ada yang masih missed. Misalnya, pemakaian bahasa asing yang merujuk suatu tempat. Kalau 'Amazing Kalimantan' atau 'Cheap Trip To Singapore and Malaysia', saya masih terima. Tapi, tidak terima saat ada tertulis 'Yeah, that's Derawan Island'. Nama pulau ikut dimiringkan? Belum pula judul besar di bab 'The Exoticm of South Thailand'. Kata 'exoticm' tidak saya temukan di kamus. Yang benar 'exoticism'. Beberapa kesalahan eja juga perlu diperhatikan.

    Inkonsistensi juga saya temukan pada pemakaian istilah 'backpacker­-an'. Paling banyak, Adis menggunakan istilah ini. Beberapa pula saya temukan istilah 'backpacking'. Mengapa tidak 'backpacking' sekalian dari awal sampai akhir? Karena ini lebih menunjukkan aktivitas sebagaimana yang dimaksud Adis dalam konteks kalimat. Backpacker kan orangnya.

    Itu beberapa masukan saya dari segi teknis. Dan, hal ini tentu bisa diperbaiki di cetakan berikutnya.

    Bagaimana dengan kisah-kisah yang tertuang di buku ini?

    Adis ini gila! Pengalamannya (atau tulisannya?) kocak. Saya kira dua-duanya. Ia menceritakan hal-hal yang membuat pembaca akan melahap buku ini dengan cepat. Alias, tulisannya ringan. Hal-hal remeh sampai penting (berupa informasi rute, makanan, penginapan, transportasi, beserta harga-harga) ia tulis.

    Di buku ini, ia menceritakan pengalamannya ke Thailand, Singapura, Malaysia, Sawarna, Kalimantan, Bali, juga sedikit teaser perjalanan cintanya bersama pacar ke negara-negara Asia Tenggara. Semua dilakukan dengan backpacking alias murah meriah sekaligus cerdik.

    Penulisnya juga iseng, agak koplak, dan beberapa tindakannya cenderung kriminal. Entahlah, ini mungkin kecerdikan yang ia salahgunakan. Semisal, ia ingin internetan gratis via WiFi. Ia pura-pura mau check in di sebuah hotel, minta password WiFi pada resepsionis, lalu dengan enaknya keluar hotel dengan alasan jemput teman padahal ia tidak balik-balik lagi. Modus yang sama ia lakukan kala minta password WiFi di restoran di Phi Phi Island, Thailand. Koplak, bukan?

    Pengalaman lainnya saat ketinggalan pesawat menuju Vietnam gara-gara supir travel yang ia pakai dari Bandung sering ngetem. Tapi, gara-gara ini pula ia melenceng jauh blusukan ke Borneo di hari yang sama. Kok, bisa? Bisa saja. Karena Adis mengaku smart traveler. Haha...

    Belum lagi kegilaannya di Sawarna, Banten, bareng teman-temannya yang teler di pantai gara-gara mushroom alias jamur racun tai kebo. Ah, sarap!!!

    Tapi, di balik kesarapannya, ia tetap mau berbaik hati membagi tips dan trik yang menurut saya bisa banget dicoba. Kayak, bagaimana tidur di bandara, bagaimana memilih rekan seperjalanan, juga mengatur anggaran.

    Perjalanan penulis berusia 22 tahun ini jadi terlihat berbeda karena memang ia menuliskannya dengan sungguh liar. Humornya sedikit kasar dan kadang menjurus seksis. Cerminan Adis. Kendati ia mengaku kalau dalam tulisan, alter ego­-nya yang bercerita. Saya yang pernah bertemu dan ngobrol empat mata, melihatnya cenderung kalem dan tipe pendengar serta memiliki antusiasme yang tinggi.

    Penulis yang merupakan Petualang ACI 2011 Tim NTB 2 ini adalah 'mantan' mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Ia memilih hengkang dari bangku kuliah karena ingin mengejar passion­-nya, yaitu traveling! Keputusannya yang membuat dia galau ini tersingkap pula lewat buku yang dibanderol dengan harga Rp35 ribu ini.

  Ingin mengikuti petualangan koplak Si Adis yang terkadang kontemplatif ini? Hubungi saja penulisnya langsung.

by : @lafatah

keceh kan? keceh dong? keceh lah yah? keceh banget kan? IYA KAN !!?? NGAKU !!?? okeh, jadi tunggu apalagi. Buruan beli buku gue !!

Voila , Tarif Hotel Murah di Bandung !


Halo backpacker backpacker keceh~
 

Ini adalah penebusan dosa gue, gegara di bulan mei ini gue jarang banget nge-posting artikel. Sebenernya udah lama banget gue pengen posting tentang hotel-hotel murah di Bandung, yang secara ini adalah kota dimana gue tinggal. Backpacker gembel masa gak ngeinfoin tentang kotanya sih yah.

Nah, yang beda dari postingan kali ini adalah, gue comot tulisan dari blog temen gue si Ola, karena tulisan dan daftar hotel murah di Bandung yang dia punya lebih lengkap dan keceh. Karena gue backpacker dan blogger sopan, tentunya gue udah minta izin dulu ke si empu yang punya tulisan. Dan gue bakal sedikit memperkenalkan tentang temen gue ini :

"Yah, cewek nama lo siapa nih?"

Nama akoh Laura Hermawati~

"Kok sering dipanggil bule sih?"

Iyah, carena akoh blasceran Pangandaran Perancis!

"Oh,, Pantes ngomongnya muncrat-muncrat gitchu yach. Yaudah, boleh sebutin nama blog kamoh apa?"

Ini nih blog akoh --> http://thebeachlovesme.blogspot.com :)

"Jarang update blog yah? tulisannya masih dikit banget tuh #pffftt"

Yaudah deh, langsung aja simak tulisan si Ola ini tentang Hotel Murah di Bandung~
Bandung memang super ! Sebagai kota besar, Bandung menyajikan berbagai macam atraksi wisata , diantaranya wilayah pegunungan yang sejuk, wahana permainan (kampung gajah, trans studio, BCL, dll) , cafe-cafe yang memiliki atmosphere khas, dan masih banyak lagi. Tidak heran banyak orang yang tertarik untuk berwisata ke kota Bandung, mencicipi jajanan Bandung, mencicipi mojang bandung, eh.


Berdasarkan seringnya sms masuk yang nanya " La, hotel di Bandung yang murah dimana ya? Kalau bisa dibawah 200" di mbah mu, gratis. Baiklah, saya dengan senang hati akan berbagi info mengenai hotel murah di Bandung, Voila..teka-teki hidup wisatawan kere (atau smart? ) akan terpecahkan.

Daftar Hotel Murah Bandung :

Hotel Nirmala
Hotel Nirmala Bandung,Cipaganti Rp.180.000 
terletak di jalan Cipaganti Bandung (Sebelah sop buntut dahapati)
Harga paling rendah Rp. 180.000
Tempatnya bersih, nyaman, di daerah yang mudah di capai oleh kendaraan umum (angkot) plus harga sudah termasuk breakfast , fasilitas : air panas, sabun, Tv (menurut saya AC tidak terlalu diperlukan , mengingat cipaganti merupakan daerah dengan suhu yang cukup nyaman)
Tlp. (022) 2031318

Rumah Ebo
Rumah Ebo, Bandung

Rumah Ebo, Bandung
Terletak di Jln. imam bonjol no. 27, Bandung
Tlp. (022) 2533773
harga dimulai dari :
Rp. 103.000 / 172.000 (weekday/weekend) - Single Bed
Rp. 212.000 / 258.000 - Standard no bathroom
Rp. 253.000 / 410.000 - Standard with AC 
Rp. 483.000 / 540.000 - Family Room
email : rumahebo@yahoo.com
Look at the Garden ! so fresh.. we can have breakfast right on the garden :)

Hostel By Moritz
Hostel by Moritz
Hostel satu ini adalah andalan para Backpacker, terletak dekat dengan Pasar baru, rumah sakit international Sentosa, dan tidak jauh dari stasiun Bandung.
Harga sekitar Rp. 65.000 - Rp. 80.000
Alamat :Jln. Kebon jati no. 41

Hotel Patradissa
Hotel Patradissa, Bandung
Hotel Patradissa terletak sangat dekat dengan Stasiun Bandung
Jln. mochamad Iskat 8 Bandung
Harga dimulai dari Rp. 150.000 
Tlp. (022) 4206680 W

Wisma Gandapura 
Wisma Gandapura, Bandung
Harga Mulai Rp. 175.000 
Lokasi dekat dengan pusat factory outlet, Riau 
Alamat : Jln. Laks L RE Martadinata 120 Bandung Tlp. (022) 4233991 / (022) 7231201


Wisma Pendawa

wisma pendawa, Bandung
Hotel yang satu ini cocok untuk Group yang bepergian
dengan harga Rp, 150.000 kamar berisi 4 bed
fasilitas : tv, kamar mandi, shower
Alamat : jln. Ciumbuleuit no. 197 ( dekat dengan kampus Unpar)
Tlp. (022) 2031437


Hotel Baltika Bandung
Hotel Baltika Bandung

Alamat : Jln. Jend . Gatot Subroto No.30 Karees, Bandung - 40262 
Tlp: (022) 7313331
Harga : Standard Room : Rp. 180.000
            Family Room    : Rp. 215.000

Dago Inn
Dago Inn , Bandung
Untuk hotel ini aga sedikit unik, dengan harga yang sangat rendah tp dengan kualitas yang baik, Dago Inn menyajikan hotel low budget, namun hotel ini hanya khusus untuk kaum hawa (perempuan)
Harga : Rp. 50.000
terletak di daerah yang strategis, dekat dengan Factory Outlet Dago
Booking : (022) 92270392

Hotel Kenangan

rate (weekday / weekend)
Economy room : Rp. 195.000 / 205.000
Standard           : Rp. 215.000 / 230.000
Deluxe              : Rp. 245.000 / 260.000
Alamat              : Jln. Kebon Sirih no. 4, Bandung (dekat dengan stasiun, dan Bandung Indah Plaza)

Hotel Bukit Dago
Hotel Bukit Dago, Bandung

Alamat : Jalan Ir H Juanda No.311 Bandung
Tlp . (022) 2500376
Harga dimulai dari Rp. 130.000

Hotel Abang Ciwidey


Jl. Raya Ciwidey Patenggang KM.500 Telp. (022) 5928235 fax. (022) 5928429

Hotel Abang Ciwidey adalah hotel yang paling cocok bila anda berpergian ke kawasan Bandung Selatan. Terletak di daerah yang sangat strategis, anda bisa menuju hotel ini dari alun-alun, jaraknya hanya 2 km saja dari sana. Untuk mencapai ke beberapa objek wisata di Ciwidey pun sangat dekat. Hanya 10 menit menuju Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Ciwalini dan hamparan-hamparan kebun teh.

Pelayanan yang ramah dan helpful menjadi kelebihan dari hotel Abang Ciwidey ini. Mempunyai beberapa fasilitas, seperti : Meja Billiard, Lapangan parkir yang luas, Kolam pemancingan, Kamar yang luas, Air panas 24 jam, dan tentu saja hotel ini bersih, banget!

Rate harga :

Standar : 1 bed, TV, Kamar Mandi Air Panas, dll : Rp. 200.000,/hari
Deluxe   : 2 bed, TV, Kamar Mandi Air Panas, dll : Rp. 350.000/ hari
Super Deluxe  : 4 bed, TV, Kamar Mandi Air Panas, dll : Rp. 450.000/ hari

*)harga sewaktu-waktu dapat berubah.


Sekian Info beberapa hotel, penginapan murah, Hostel, Wisma di Kota Bandung. Semoga Bermanfaat. Untuk info lebih lanjut, saya dengan senang hati akan membantu. :)

catatan : Harga sewaktu-waktu bisa berubah, better kalian call dulu aja hotelnya yak :)

Nah, kalo gak mau ribet. Mending lo nyari lewat Agoda aja. Di sini banyak loh hotel murah, bahkan ada yang promo. Tinggal search tab agoda di sebelah kanan bawah blog ini yaw~

Selamat berlibur para backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker keceeeeeeeeeeeh~


Menginap di Bandara LCCT Kuala Lumpur




14 jam menjadi penunggu bandara tentu udah sangat cukup membuat gue hafal mati bandara ini. Yah, Bandara LCCT Kuala Lumpur adalah bandara kedua terbesar yang berada di Kuala Lumpur, mungkin juga Malaysia. Kepanjangan dari LCCT sendiri adalah Landasan Cecawat Cerbang Tokcer. #KemudianSebel

Dulu, waktu pertama kalinya gue ke Kuala Lumpur, gue turun di bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport) yang jauh lebih bagus dari LCCT. Namun sekarang kebanyakan penerbangan dari Indonesia menuju Malaysia, akan diberhentikan di bandara LCCT ini. Bandara yang cukup jauh dari pusat kota Kuala Lumpur, sekitar 1 jam lebih pakai bus dan 27 jam kalau lo nekat jalan kaki.

Gak usah bingung. Bandara ini emang gak segede KLIA dan gak serumit Changi Airport di Singapur, bahkan kalau gue pikir bandara ini lebih kaya terminal bus super besar !! Lahannya serba besar. Parkiran besar, smoking area besar, tempat tunggu besar dan mbak-mbak McD yang semuanya berbadan besar.

Namun, walaupun bandara ini besar, kalian jangan takut bakalan kesasar di bandara ini. Sebenarnya ada 6 point tempat saja di bandara LCCT ini, yaitu :

1. Pintu gerbang kedatangan domestik.
2. Pintu gerbang kepergian domestik.
3. Pintu gerbang kedatangan Internasional.
4. Pintu gerbang kepergian Internasional.
5. Terminal Bus ke berbagai penjuru Malaysia.
6. Cafetaria atau kantin.

Pas pertama nginjekin kaki di bandara ini, gue bingung mau naik bus atau numpang Siti Nurhalizah ke KL Sentral. Tapi karena gue waktu itu lagi bikin trip #MalayCepek, yaitu trip di Malaysia selama 3 hari yang gak akan ngeluarin uang lebih dari 100rebu, atau 33 RM. Maka berputarlah otak gue, daripada gue pakai bus ke KL Sentral yang harganya 8 RM gue lebih memilih untuk mencoba hitchiking. Dan ternyata hitchiking disini lumayan gampang sih menurut gue. Lo tinggal jalan ke arah pintu keluar, karena jalannya lurus terus, lo jalan  aja sambil lambai-lambaikan tangan minta tumpangan. Yah, tapi harus berani panas-panasan juga yak, soalnya suhu di kawasan bandara itu gersang gersang bikin merangsang !!

Jalan lurus terus buat hitchiking!

Selain ke KL Sentral, di terminal bus bandara juga ada shutter bus dan bus ke berbagai tujuan lainnya seperti Johor Bahru, Melaka, Penang, dll. Jadi gak usah takut gak bisa kemana-mana deh.

"Terus gimana kalau mau nginep di bandara LCCT nya, dis??"

Eittss.. Tenang sodarah-sodarah. Seperti apa yang gue bilang sebelumnya. Bandara LCCT ini besar tapi lenggang. Banyak banget spot yang bisa lo pakai buat tidur dan lenjeh-lenjeh sambil nunggu waktu keberangkatan.

Selain banyak spot tidur, bandara LCCT juga memiliki wifi gratis yang gue gak cobain cepet atau ngganya gegara waktu itu hape gue ilang di Kuala Lumpur #pfffttt

Fasilitas penunjang lainnya, bandara ini punya toilet yang terdapat disetiap bangunan, baik kedatangan maupun kepergian pesawat. Toiletnya pun bersih loh, bahkan ada juga shower room untuk kalian yang mau mandi di bandara. Cool !

Bagian luar LCCT

Untuk yang mau ngirit uang untuk beli minuman, bandara ini juga punya kran minum, tapi sejauh gue muter-muter bandara, gue cuma nemu satu doang kran buat minum, letaknya pun mojok banget. Tepatnya di gate kepergian Internasional, sebelah tempat wraping dan packing koper. Ciyan :'(

Nah, pembahasan terakhir adalah spot untuk tidur yang menyenangkan. Bandara LCCT punya banyak spot yang cukup nyaman untuk beristirahat, menurut gue. Untuk tidur dan istirahat sebentar, kalian bisa coba duduk-duduk cantik di kursi-kursi yang disediakan bandara. Spot yang paling tenang menurut gue adalah ruang tunggu keberangkatan domestik. Suasananya gak begitu crowded, juga letaknya dipojok bangunan membuat kualitas istirahat anda akan semakin keceh. Pret !!

Beda halnya kalau ternyata kalian pengen istirahat full, tidur berjam-jam. Kalian bisa coba spot diluar ruangan. Bandara LCCT ini akan sangat panas dan gersang pada siang hari, namun sangat adem pada malam hari. Terdapat kursi-kursi yang bisa disatukan dan tidak memiliki sandaran tangan dibagian luar bandara. Kalian bisa menggabungkan 6 kursi sekaligus buat tidur selonjoran.

Atau kalau takut tidur diluar, kalian bisa coba tidur di cafetaria atau kantin bandara. Bangunannya bersih dan gak panas. Sebelum tidur kalian juga bisa makan-makan ganteng di kantin yang harganya jauh lebih murah daripada restoran atau kedai yang berada didalam bangunan bandara. Cheers !!